ekonomi, Entrepreneurship, Ramadhan

Mudiknomics : Ekonomi Silaturrahim


source : portonews

Tradisi mudik tahun ini, kembali meriah lagi. Setelah dua tahun, terkendala oleh pandemi. Mesti masih harus terus menerapkan protokol kesehatan di berbagai tempat, akan tetapi tidak seketat tahun-tahun sebelumnya. Lebih longgar. Kendatipun masih kita jumpai, mayarakat yang terkesan abai, tetapi sekali lagi harus tetap waspada. Jangan sampai lengah, bisa fatal akibatnya.

Mudik berasal dari kata “udik”, artinya orang kampung atau orang Udik. Jadi mudik adalah kegiatan yang dilakukan oleh orang dalam rantauan dikota-kota yang dalam waktu tertentu bahkan dikarenakan sudah lama tidak pulang, untuk balik ke kampung. Sehingga mudik identik dengan kegiatan pulang ke kampung halamannya dengan berbagai moda transportasi baik kendaraan pribadi maupun umum. Mudik seringkali terkait dengan hari besar keagamaan terutama hari raya Idul Fitri atau cuti tahunan untuk silaturahim pada keluarga besarnya yang ada dikampung.

Pada perkembangan selanjutnya, mudik tidak hanya terkait dengan kegiatan silaturrahim ke kampung yang awalnya kental dengan muatan religius tersebut. Akan tetapi  sudah bercampur dengan kegiatan ekonomi, sosial, budaya,  dan bahkan politik. Continue reading “Mudiknomics : Ekonomi Silaturrahim”

ekonomi, Politik., Ramadhan, Tarbiyah

Ketika Rektor Bermulut Kotor


source : WA

Sejak kemarin 29/4/2022, media sosial heboh dengan tulisan Rektor Institut Teknologi Kalimantan, yang menghiasi jagad lini masa. Seharusnya, dihari-hari dipenghujung Ramadhan seperti ini, kita disibukkan dengan ibadah yang maksimal, berpacu untuk mendapatkan finish yang terbaik, mau-tidak mau disuguhi sebuah narasi yang menyakitkan. Sehingga terpaksa juga harus mereponnya, sebagai wujud dan sikap sebagai muslim sekaligus meluruskan pendapat jika ada yang salah. Wa tawasau bil haq, wa tawasau bish-shabhri.

Prof. Ir. Budi Santosa Purwokartiko, MS, PhD, dalam unggahannya itu menceritakan saat menyeleksi para mahasiswi yang akan belajar ke luar negeri melalui biaya LPDP. Dimana dia menyebutkan bahwa mereka rata-rata memiliki nilai akademis yang bagus, IP nya rata-rata 3,5 bahkan ada yang 3,8 dan 3,9.  Bahahas Inggrisnya cas, cis, cus bahkan IELTS nya 8,5 bahkan 9. Duolinggo bisa mencapai 140, 145 bahkan ada  150 (padahal syarat minimum 100). Mereka aktif di kegiatan kemahasiswaan (profesional), organisasi sosial, asisten lab atu asisten dosen. Sampai disini masih informatif.

Kemudian tulisannya berlanjut mereka berbicara tentang hal-hal yang membumi : apa cita-citanya, minatnya, usaha-usaha untuk mendukung cita-citanya, apa kontrbusi untuk masyarakat dan bangsanya, nasionalisme, dsb. Tidak bicara soal langit atau kehidupan sesudah mati. Pilihan kata-katanya jauh dari kata-kata langit : inshallah, brakallah, syiar, qadarullah, dsb. Disini terlihat pandangannya sudah mulai rancu dan tendensius. Jelas tidak netral, seolah ada agenda yang diusung.

Lalu berlanjut dengan dan kebetulan dari 16 yang saya wawancarai hanya 2 yang cowok dan sisanya cewek. Dari 14 ada 2 yang tidak hadir. “Jadi 12 mahasiswi yang saya wawancarai tidak satupun yang menutup kepala ala manusia gurun,” tulis Budi Santoso. Kata Budi Santoso, para mahasiswi yang akan belajar ke luar negeri tanpa penutup kepala manusia pemikirannya terbuka. “Mereka mencari Tuhan di negara-negara maju seperti Korea Selatan, Eropa dan Amerika Serikat bukan ke negara orang-orang pandai bercerita tanpa karya teknologi,”

Ironisnya setiap tahun itu ribuan peserta LPDB yang lolos untuk studi ke luar negeri maupun ke dalam negeri Pertannyaannya mengapa hanya 12 ini yang menjadi contoh. Selanjutnya jika tim seleksinya sudah tidak netral seperti ini, akan merusak citra LPDP itu sendiri. Sebab LPDP ini bisa diakses oleh semua rakyat Indonesia yang telah memenuhi syarat yang ditetapkan.

Siapa Profesor Ini?

Sekali lagi sifat netizen Indonesia ini memang canggih. Saya kutip di salah satu grup WA dan diverifikasi dibeberapa sumber-sumber yang ada, didapatkan sebagai berikut. Sejak menjadi murid SMA l Klaten orang ini memang liberal dan lslamophobia. Prof. Ir. Budi Santosa, M.S., Ph.D dilantik menjadi Rektor Institut Kalimantan (ITK) pada tanggal 19 Desember 2018 masa bakti 2018-2022.

Beliau merupakan Profesor/Guru Besar Teknik Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang lahir di Klaten, 12 Mei 1969. Bidang keahlian beliau diantaranya Data Mining, Optimasi dan Metaheuristik, Operations Research, Manajemen Proyek. Beliau menempuh Pendidikan Strata-1 di Institut Teknologi Bandung Program Studi Teknik Industri, Kemudian melanjutkan Pendidikan Magister dan Doktor Teknik Industri di University of Oklahoma, Norman,  Oklahoma, USA

Terkait dengan ini, ada netizen yang bilang,”Secara akademis beliau ahli di bidangnya, buku dan jurnal tulisannya saya sitasi dan dijadikan rujukan, saat menyelesaikan thesis saya, akan tetapi kalo sudah urusan agama seperti ini, bukan domainnya dan terkesan ngawur.”

Respon dan Jejak Digital

Seperti biasa karena melihat ada ketidakberseran dari statemen diatas, yang memang sangat tendensius itu, sehingga repon berseliweran, bahkan banyak juga dari sejawat, sesama akademisi, profesor, PhD dan semua kalangan. Ada yang menyayangkan pernyataan seperti itu keluar dari seorang Profesor, ada yang meluruskan dan bahkan ada yang menhujat. Tidak sedikit juga yang mengancam untuk melaporkan ke bihak yang berwajib, karena sudah melanggar UU ITE.

Setelah kontroversial dan menuai banyak repon, bahkan saat diklarifikasi melalui tautan tulisan itu di akun Facebooknya, dia balik bertanya, salah saya apa?. Sebuah pertanyaan yang nggak pantas dikeluarkan oleh penyandang PhD, jadi sekelas pertanyaan anak SD. Maka postingan itu di hapus. Akan tetapi, kadung sudah discreenshoot oleh banyak netizen dan telah menyebar kemana-mana.

Selain itu, sifat julid netizen Indonesia seperti biasa menelusuri jejak digital dari unggahan dan pendapat dari berbagai tulisan. Dimana memang ketidak sukaannya terhadap Islam itu sudah lama. Ada yang mengunggah sikapnya terhadap HRS, terhadap kelompok-kelompok Islam dlsb. Seorang kolega yang dulu sama-sama menjadi dosen di ITS (sebelum dia diangkat jadi Rektor ITK) menyampaikan begini : “Bapak satu ini emang bermasalah statusnya dari dulu.  Mirip Ade Armando. Dia bilang Hidayatullah tidak Nasionalis lah.  Gak ada upacara dst”.  Lalu sang dosen itu melakukan sanggahan sendiri,”Buktinya anak-saya di Hidayatullah ada upacara. Males liat statusnya Prof ITS satu ini.” Hidayatullah yang dimaksud disini adalah Pesantren dengan Sekolah Lukmanul Hakim yang bertetangga dengan ITS, dan banyak dosen ITS yang menyekolahkan anaknya di situ.

Ada lagi pengungkapan jejak digital dari seorang yang bernama Alexander (Abu Taqi Mayestino) yang menanggapi tulisan lama Pak Budi ini yang bertajuk Beyond Religion, dimana Prof Budi menyarankan agar umat Islam umroh dan haji ke Jepang, agar bisa banyak belajar dari budaya Jepang dst. Tanggapan Pak Alex yang mengaku sebagai juniornya di ITS ini, dengan berbagai argumen yang sangat panjang dan ilmiah, disimpulkan dalam satu kalimat sederhana Maaf Anda Jelas Belumlah Memahami Religion.

Bahkan Ismail Fahmi, pemilik drone emprit itu, dalam status di FB nya menyampaikan begini “tulisan Prof Budi Santosa Purwokartiko ini bisa masuk kategori “rasis” dan “xenophobic“. Rasis: pembedaan berdasarkan ras (manusia gurun, Arab). Xenophobic: benci pada orang asing (manusia gurun). Saya kira beliau contoh korban “firehose of kadrunisasi”. Jangan dicontoh ya gaes”. Firehouse of kadrunisasi ini, sebagai plesetan dari firehose of falsehood (semburan dosa) adalah teknik propaganda yang menyiarkan pesan dalam jumlah besar secara cepat, berulang-ulang, dan tanpa henti di berbagai media (seperti berita dan media sosial) tanpa mempedulikan kebenaran atau kepastiannya.

Bagaimana Sikap Kita?

Pak Budi Rahardjo, PhD saat mengunggah ini di akun Fbnya, banyak sekali yang menanggapi postingannya, terkait ini saya sampaikan bahwa “Justru narasi seperti ini yang merawat keterbelahan negara ini. Dia dengan pernyataannya itu pengin dianggap openmind, padahal sebaliknya. Tidak bisa menerima keragaman. Aneh…”

Pertanyaannya adalah bagaimana sikap kita menghadapi hal ini? Agar kita juga tidak terjebak dalam menghakimi sejak dini. Meskipun di awal tulisan ini, sudah saya sampaikan beberapa sikap netizen yang sebenarnya bisa dijadikan panduan sebagai sikap kita.

Pertama tabayyun, klarifikasi ini penting untuk dilakukan, setidaknya agar kita tidak menjudge sedini mungkin, selanjutnya juga untuk mengetahui apakah memang benar ini tulisan dari prof Budi tersebut, dan apa alasannya menulis hal yang bisa menjadi sensitif serta mengundang kegaduhan iu.

Kedua menasihati, karena konten tulisan itu tendensius, maka menasihati menjadi pilihan. Ada berbagai cara baik dengan cara melalui media sosial ataupun di silaturahimi di rumah/kantornya, bahwa pernyataan itu kontraversial. Untuk di media sosial sudah banyak yang mencoba, akan tetapi beliau kekeuh dengan pendiriannya, dimana salah saya? Maka silaturrahim menjadi salah satu pilihan untuk langkah ini.

Ketiga dialog dan debat ilmiah, sebagai seorang akademisi maka, dialog dan debat ilmiah menjadi salah satu pintu jika ada perbedaan pendapat. Ada beberapa yang mencoba mengajak dialog malah enggan dan kekeh dengan pendapatnya. Sehingga ketika beliau menghapus postingannya, menunjukkan ketidaksiapan untuk adu argumen tersebut. Akan tetapi masih bisa di fasilitasi di suatu tempat atau dengan media daring, untuk melakukan ini. Kita juga pengin tahu apa latar belakang argumennya itu dlsb.

Keempat dido’akan, bisa jadi Pak Profesor ini khilaf saat menuliskan ini. Meskipun jika dilihat dari jejak digitalnya memang sudah menjadi kebiasaan. Untuk itu mendo’akan agar Prof Budi mendapatkan hidayah menjadi sebuah pilihan. Sehingga hatinya terbuka untuk menerima kebenaran, dan tidak mengeluarkan statemen yang kontravesial. Mumpung di penghujung ramadhan.

Kelima dilaporkan, jika memang menenuhi unsur pidana maka bisa dilaporkan ke pihak yang berwajib. Hal inii diatur dalam UU ITE Pasal 28 ayat (2) dan juncto Pasal 45 a Ayat 2, sehingga dapat dijerat hukuman itu. Atau juga peraturan lain yang relevan yaitu Pasal 156a KUHP, itu mengenai penodaan agama. Kira-kira pasal itu yang dikenakan terhadap yang bersangkutan

Semoga ini menyadarkan kita semua bahwa jangan sampai seorang profesor merangkap jadi provokator dengan terus menyuburkan dan memupuk benih-benih Islamophobia yang sebenarnya sudah dimatikan oleh PBB itu. Demikian juga, Prof. Budi  sebaiknya segera meminta ma’af ke publik secara terbuka atas kegaduhan yang ditimbulkan dan berjanji tidak mengulangi lagi.

Saya sadar bahwa seorang profesor itu memiliki intellectual pride, harga diri intelektual yang tinggi, sehingga sulit atau berat untuk meminta maaf. Tetapi ingat Prof, Anda yang menanam, sehingga anda juga yang berhak memanen hasilnya.  Ayolah Prof, gentle-lah. Mumpung hari ini masih bulan ramadhan, disaat ruhiyah muslim sangat tinggi, In Syaa Allah pintu ma’af selalu terbuka.  Wallahu a’lam