ekonomi, Krisis, Peradaban, Politik.

The Next Convergence


Tahun 2001, Michael Spence mendapat hadiah Nobel dalam bidang Ilmu Ekonomi. Melalui bukunya The Next Convergence : The Future of Economic Growth in Multispeed World, yang dirilis tahun 2011, setelah 2 (dua) dasa warsa berselang dari tulisannya itu, menemukan jawabannya. Pantas saja, saat buku tersebut diterbitkan, a Washington Post, koran harian terbesar di USA saat itu, menempatkan karya ini sebagai notable non fiction book a stragey + business best business book for economis. Sebuah penghargaan yang saat tinggi bagi sebuah karya tulis. Selain itu juga mendapatkan testimony dari berbagai media kelas atas pada masanya.

Sebenarnya apasih yang menyebabkan buku ini istimewa. Kata Muhammad A. El-Erian, seorang penulis terkenal dengan bukunya When Market Collide, menjelaskan,”Jarang sekali saya menemukan buku yang begitu kuat dalam analisisnya, tepat waktu dalam topiknya, relevan dalam pemikirannya, dan jelas dalam eksposisinya…. Sejauh ini, ini adalah buku terbaik yang saya miliki segera tentang transformasi pertumbuhan historis hari ini”. Sementara itu majalah Financial Times (London) menuliskan dalam sebuah tajuknya sebagai,”Sebuah buku yang cerdas, rasional dan manusiawi tentang peristiwa ekonomi besar yang melintasi zaman…. Siapapun yang mencari panduan akal sehat untuk transformasi yang sedang berlangsung tidak perlu mencari lebih jauh”. Dan masih banyak lagi deretan puja-puji yang membersamai buku itu.

Siapasih Michael Spence itu?. Sebagai seorang ekonom, CV nya cukup panjang untuk di tulis. Namun setidaknya, Dia adalah profesor di Stern School of Business di New York University,  Senior Fellow di Hoover Institution dan mantan ketua Komisi Independen untuk Pertumbuhan dan Perkembangan. Mantan Dekan Sekolah Pascasarjana Bisnis Universitas Standford, dll.

Jika kita telisik sebenarnya, buku ini mengandung 2 (dua) tema besar. Yang pertama adalah bahwa selama 250 tahun pertama setelah Revolusi Industri, standar hidup di dunia menyimpang karena hanya sekitar 15% dari populasi dunia yang mencapai status berpenghasilan tinggi, tetapi selama 60 tahun terakhir mereka telah menyatu karena pembangunan ekonomi telah menyebar ke negara yang berisi sekitar 60% orang yang tinggal di negara kurang berkembang. Tema utama kedua adalah bahwa, karena globalisasi, ketergantungan ekonomi melampaui struktur pemerintahan internasional dengan cara yang dapat menghambat kemajuan lebih lanjut kecuali institusi global diperkuat, dan adanya pergeseran dominasi pelaku ekonomi dunia.

Dalam berbagai pandangan Spence tersebut, setidaknya dapat dijelaskan dalam Bab terakhir dari bukunya itu. Bab terpanjang dalam buku ini, membahas tentang teknologi informasi dan integrasi ekonomi dunia. Bahasannya mencakup diskusi menarik tentang efek revolusioner dari ponsel, teknologi informasi berbasis jaringan, dan otomatisasi, beberapa diskusi yang diambil dari karyanya yang diakui secara luas oleh Spence tentang ekonomi berbasis informasi. Sebenarnya terdapat bagian yang agak membingungkan dari bab ini, dia berpendapat bahwa, seperti halnya mungkin ada pihak yang dirugikan dalam perekonomian domestik akibat ekspansi perdagangan, demikian pula mungkin ada negara-negara yang akan kalah dari globalisasi tanpa redistribusi pendapatan internasional. Spence mengakui, sejauh ini belum ada contoh yang jelas tentang negara yang gagal mengambil keuntungan dari partisipasinya dalam ekonomi global. Tetapi dia berpendapat bahwa kita tidak memiliki teori dan model yang cukup kuat untuk memprediksi efek kesejahteraan antarwaktu dari pertumbuhan ekonomi global.

Spence berpendapat bahwa ekonomi global telah berjalan jauh di depan struktur pemerintahan global, dan dia menganggap ini sebagai masalah besar. Ekonomi telah menjadi begitu terintegrasi sehingga ekonomi global berfungsi dengan cara yang sama seperti ekonomi domestik tetapi tanpa struktur tata kelola yang memadai untuk mengidentifikasi dan memperbaiki eksternalitas, menyediakan barang publik global, dan mengidentifikasi serta menutup kesenjangan yang berasal dari asimetri informasi. Spence mengatakan “[t]tidak ada bukti atau teori yang menunjukkan bahwa struktur ini akan bekerja…atau akan menghasilkan hasil yang baik.” (hal. 245) Dia menganggap Uni Eropa sebagai eksperimen yang sangat penting dalam pemerintahan transnasional yang, jika berhasil, dapat menjadi pola bagi dunia pada umumnya. Kesengsaraan Uni Eropa saat ini menimbulkan pertanyaan seberapa patut diteladani.

Dalam diskusinya tentang bagaimana mempertahankan pertumbuhan selama paruh kedua abad yang disebut dengan konvergensi, Spence dengan anehnya menganggap sistem hibrida yang digunakan oleh negara-negara berkembang saat ini, sebagai sistem hibrida yang digunakan oleh negara-negara berkembang saat mereka mengatasi lingkungan internal dan eksternal yang berubah dengan cepat. Ketika kita mempertimbangkan banyak distorsi ekonomi yang diperkenalkan oleh pemerintah negara berkembang yang telah menghambat kemajuan mereka, ini memang membingungkan. Bahkan untuk negara-negara yang telah melakukan transisi ke jalur pertumbuhan tinggi, kita harus bertanya-tanya apakah kontrafaktual dari kebijakan yang lebih sedikit distorsi tidak akan menghasilkan pertumbuhan yang lebih cepat.

Spence juga menyarankan bahwa kebijakan ke depan untuk ekonomi global harus ditentukan oleh, dan diterapkan pada, negara-negara G20. Pengelompokan ini mencakup negara-negara yang berdasarkan ukurannya dapat memiliki efek eksternal yang penting secara sistemik. Perekonomian dunia lainnya menyumbang kurang dari 15% dari output global, dan memasukkannya hanya akan membuat pengambilan keputusan menjadi lebih kompleks sehingga tidak perlu dimasukkan saat ini. Namun, negara-negara berkembang tidak dilayani dengan baik oleh rezim perdagangan dunia selama periode GATT justru karena mereka tertinggal. Penggabungan mereka ke dalam ekonomi dunia, yang dipuji Spence dengan memainkan peran penting dalam kesuksesan mereka beberapa waktu lalu, akan terjadi lebih cepat jika lebih banyak tuntutan dari mereka pada periode sebelumnya. Kita harus bertanya-tanya apakah membebaskan mereka dari praktik terbaik global dalam pengaturan masa depan sebenarnya adalah kepentingan terbaik mereka.

Kendatipun demikian, sesungguhnya hal yang menarik adalah prediksinya bahwa perekonomian dunia akan mengalami pergeseran dari Barat yang menjadi pemain utama perdagangan dunia saat ini, berubah arah  ke Timur atau lebih tepatnya digantikan negara-megara “baru”. Meskipun hal  ini sejatinya bukan hal baru, tetapi juga mengekor para ekonom terdahulu bahwa BRIC(IT) Brasil, Rusia, India, Cina, Indonesia dan Turkey akan memerankan perekonomian dunia pada masa mendatang.

Demikian halnya, dengan prediksi bahwa teknologi informasi dengan segala turunannya juga akan mendeterminasi perekonomian di masa mendatang. Kini menemukan momentumnya, dan praktis dengan disrupsi menjawab itu semua. Dan sebenarnya, inilah yang dimaksud dengan konvergensi saat itu. Dan inilah mengapa, pertumbuhan akan terjadi secara multispeed, di masa mendatang.

Permasalahannya adalah, Spence tidak pernah memprediksi terjadinya pandemi COVID, yang akan merusak “skenario” tersebut di atas. Tatanan dunia telah berubah. Pertumbuhan ekonomi sempat mengalami minus, dan masih belum pulih dari luka hingga saat ini. Pertanyaannya adalah, masihkah negara-negara “baru” itu, tetap akan menjadi pemain utama dunia (dan menjadi anggota G-20)?. Dan apakah metaverse yang kini sedang menjadi concern dan pembicaraan dunia itu, sebagai next economy dan sejatinya ia adalah the next convergence sebagaimana yang dimaksud? Dan bisakah kita menjadi bagian dari itu? Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.