Krisis Multidimensi Dampak Covid-19


Ramadhan ke-7

Renungan Kita sore ini berkenaan dengan apa saja sih dampak ikutan dari COVID-19?. Baik yang terdampak secara langsung atau tidak langsung mempengaruhi kehidupan manusia secara individu. Juga terhadap kehidupan bernegara & kehidupan dunia?

Ternyata, jika dikaji lebih jauh, sesungguhnya yang terjadi bukan hanya persoalan kesehatan saja. Memang kesehatan menjadi triger, namun pada pekembangan berikutnya saling berkelindan dengan aspek lainnya. Kemudian meenghasilkan krisis diberbagai sektor. Dengan bahasa lain, hal ini bisa mengarah ke krisis multidimensi.

Sehingga banyak cerdik pandai telah mensinyalir dunia sedang di reset, sedang diformat ulang, sedang direinstallatau istilah sejenis lainnya. Tentu pendapat tersebut sebagai analogi dan diikuti dengan data, fakta dan kajian yang bisa diverifikasi. Sehingga diprediksi akan segera lahir new world order. Bahkan bisa memantik lahirnya peradaban baru, yang berbeda dari yang ada sekarang. Apa itu? Nanti Kita bahas dilain waktu.


Kembali ke soal krisis multidimensi, yang bisa jadi mengiringi selama dan pasca Covid-19.  Saya setidaknya mencatat beberapa hal sebagai berikut ini : 

1. Krisis Kesehatan
Sejak sebelum dan kemudian dikonfirmasi saat terjadi wabah  Covid-19, kita dapatkan data bahwa rasio dokter, rasio bed/tempat tidur rumah sakit di negeri ini memang jauh dari ideal. Demikian juga dengan rasio jumlah tenaga kesehatan, alat-alat kesehatan, obat-obatan, dlsb. Demikian halnya kesadaran rakyat terkait kesehatan juga rendah. Sehingga banyak jenis penyakit yag terjadi di negeri ini. Meskipun kemudian dengan adanya Covid-19, memantik kesadaran untuk mulai hidup sehat. Dan hingga sore ini sudah ada 10.118 jiwa yang terinfeksi, 792 maeninggal, 1.522 yang sembuh.  Sehingga kini krisis kesehatan itu benar-benar terjadi. Apalagi ditambah dengan kematian dokter dan paramedis yang tertular COVID-19 ini. 

2. Krisis Ekonomi
Sebelum adanya Covid-19, sebenarnya tanda-tanda krisis ekonomi sudah ada. Sebab, indikator makro selama beberapa tahun belakang juga menunjukkan gejala ke arah krisis. Dengan adanya Covid-19, dimana terjadi perlambatan ekonomi secara global, akan mempercepat terjadinya krisis ekonomi itu. Bahkan sekenario yang paling parah di prediksi pertumbuhan Ekonomi Indonesia minus 0,4 persen. Saat inipun, sudah mulai banyak terjadi PHK, perusahaan bangkrut dan gulung tikar dlsb.

3. Krisis Pangan
Akhir bulan lalu, Badan Pangan dan Pertanian PBB (FAO) menyatakan bahwa krisis pangan dunia berpotensi terjadi pada April dan Mei karena rantai pasokan terganggu kebijakan negara-negara dalam menekan penyebaran virus corona
Krisis pangan ini terjadi secara global, demikian halnya di Indonesia. Maka persiapan  untuk ini perlu diantisipasi. Tidak heran jika kemudian ada perintah dari Presiden kepada BUMN untuk mencetak sawah. Dan hal yang sama seharusnya secara individu bisa kita lakukan dengan memanfaatkan lahan sekecil apapun yang kita miliki dengan tanaman pangan.

4. Krisis Psikologis
Kondisi stay at home, dengan pembatasan aktifitas, bagi orang yang aktif menjadi tertekan. Rakyat yang harus mencari nafkah harian dan tidak bisa melakukan apa-apa, juga akan mendorong terjadinya depresi. Dan ini, memicu terjadinya disharmonis di keluarga. Dan hubungan sosial lainnya. Ini akan menciptakan keresahan, dan mengarah terjadinya  krisis psikologi secara masa. Karena orang menjadi stress dan tertekan yang berkepanjangan.

5. Krisis Spiritual
Pembatasan sosial, dan kemudian dilanjutkan dengan adanya kebijakan larangan berkumpul, termasuk beribadah ke Masjid, bagi daerah merah. Serta boleh dengan protocol yang ketat untuk daerah kuning dan hijau sekalipun, memicu keresahan spiritual. Kita yang terbiasa beribadah ke Masjid untuk melaksanakan sholat wajib dan juga pengajian di Masjid, menjadi terkekang.  Demikian halnya bulan ramadhan seperti ini, sementara tidak bisa melaksanakan sholat tarawih di masjid. Hingga Jum’at 1/5 besok, praktis sebagian orang sudah ada yang  6 kali tidak bisa melaksakan sholat jum’at. Tentu bisa mengarah terjadinya krisis ruhiyah, atau krisis spiritual.

6. Krisis Energi

Hari ini, di berbagai medsos tersebar gambar banyaknya kapal tanker yang terpaksa parkir di sepanjang pelabuhan dan masih mengangkut minyak, karena tidak bisa diturunkan. Sebab industri, tranportasi, penerbangan, dlsb saat ini banyak yang tidak beroperasi. Sementara dengan parkir saja, satu hari biayanya hingga 30.000 USD. Disisi lain, dengan banyak stay at home, memang berbagai industry itu berhenti, sementara di rumah tangga kebutuhan energi terus meningkat. Namun ada atau tidak adanya COVID-19, sudah banyak diramalkan bahwa energi berbasis fosil, tidak akan berumur panjang. Sehingga krisis itu kini sedang dan akan terus terjadi. Kecuali ditemukan energi baru terbarukan yang lebih efektif dan efisien pengganti eneergi berbasis fosil tersebut. Misal dengan solar cell, biomassa, panas bumi, hydro, angin, dlsb.


7. Krisis Sosial

Saat ini krisis sosial sedang terjadi. Kita bisa dapati banyak berita dan juga di share video terjadinya kekerasan termasuk pencurian dan perampokan terjadi dimana-mana. Mungkin hal itu juga terjadi disekitar kita. Ditengah kesulitan ekonomi dan pembatasan sosial, ditambah adanaya 30 ribu lebih napi yang dilepaskan, dari lapas, mau tidak mau bisa memicu terjadinya kriminalitas yang lebih luas lagi. Dan ini akan menjadi bisa lebih parah, jika wabah covid-19 ini tidak segera berakhir. Karena bisa mengarah ke krisis sosial yang lebih besar, bahkan tidak menutup kemungkinan mengarah ke arah krisis politik. 


8. Krisis Kepeminpinan

Kualitas kepemimpinan itu akan terlihat ketika menghadapi tekanan, kondisi tidak normal, dan krisis sebagaimana juga wabah seperti saat ini. Saat ini adalah ujian kepemimpinan. Ketegasan, dengan arahan yang jelas dan terukur serta tidak berubah-ubah, akan memberikan ketenangan terhadap yang dipimpin. Koordinasi kepada team yang ada disekitar pemimpin juga akan memberikan harapan bagi yang dipimpin. Sehingga pemimpin adalah selalu berusaha untuk melindungi, menjaga, menciptakan rasa aman dan nyaman bagi yang dipimpian. Dalam wabah COVID-19 ini ada Negara yang sukses mengarahkan negaranya untuk terbeas, ada yang tidak berhasil. Nah, ujian kepemimpinan kini terjadi. Dan ternyata kita sedang mengalami krisis kepemimpinan ini.

Anda boleh setuju atau tidak dengan beberapa tulisan dan apa yang ditulis di atas. Meskipun sebenarnya masih bisa menambahkan bentuk  krisis-krisis lainnya yang terjadi. Tetapi hal tersebut, dan penjelasan yang sangat sederhana itu, paling tidak bisa memberikan gambaran dan antisipasi terhadap segala kemungkinan yang terjadi. 

Sebagai orang beriman, maka layak kita menjadikan hadits nabi ini sebagai panduan. Apapun yang telah, sedang dan akan terjadi. “Sungguh menakjubkan keadaan seorang mukmin. Seluruhnya urusannya itu baik. Ini tidaklah didapati kecuali pada seorang mukmin. Jika mendapatkan kesenangan, maka ia bersyukur. Itu baik baginya. Jika mendapatkan kesusahan, maka ia bersabar. Itu pun baik baginya.” (HR. Muslim, Nomor 2999)

Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam.

Author: Asih Subagyo

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.