Menikmati Ramadhan Saat Pandemi


Ramadhan ke-5

Beberapa hari menjelang ramadhan, kita bisa menikmati tarhib ramadhan. Fasilitas teknologi video conference, yang mudah di dapat. Yang  gratisan maupun yang berbayar bisa di unduh. Seolah menjadi solusi dikala Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) berlangsung. Sehingga memaksa atau dengan penuh kesadaran sendiri, kita harus tetap tinggal di rumah. Banyak aktifitas yang mengharuskan kita stay at home

Memang kondisi lingkungan sedang “tidak baik.” Pandemi Covid-19 menghantui aktifitas setiap rakyat. Virus korona yang tidak memilih siapa yang akan ditinggali sebagai inang, bisa menginfeksi siapa pun itu. Tua-muda, pria-wanita, kaya-miskin, pintar-bodoh, tinggal di kota-atau dikampung, dlsb, tidak ada yang kebal dengan virus yang “egaliter”. Tidak jarang memaksa si pemilik badan (inang), akhirnya mengidap gejala pernafasan kronis. Jika kondisi fisiknya bugar, maka akan kuat menahan gempuran corona. Jika sedang lemah, maka kematian akan membersamainya. 

Kembali ke soal tarhib ramadhan. Seringkali kita rancu dan salah penempatan, termasuk di penulisan spanduk/memen. Yaitu antara istilah tarhib dan targhib. Biar lebih mudah, kita kaji definisinya dulu. Tarhib Ramadhan itu melambangkan penyambutan bulan suci Ramadhan oleh setiap umat Islam. Sedangkan Targhib Ramadhan sendiri melambangkan kecintaan bulan suci Ramadhan oleh seluruh umat Islam. Karena Ramadhan merupakan satu-satunya bulan yang dilebihkan oleh Allah SWT dari bulan-bulan lainnya. Hal ini bersebab banyak keutamaan didalamnya. Salah satu  yang utama adalah bulan diturunkannya al-Qur’an. Sebagai panduan hidup umat manusia. Sehingga dengan demikian, tarhib ramadhan bisanya mengantarkan setiap umat islam untuk menjadi targhib ramadhan

Apakah pada jaman Rasulullah, sahabat dan salafush shaleh ada tarhib ramadhan? Jawabnya tidak ada, sebab tidak ada keterangan yang jelas dan shahih tentang ini. Namun Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits yang berbunyi, “Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, serta sampaikanlah kami pada bulan Ramadhan”. Iman Ibnu Rajab mengatakan bahwa hadits ini dhoif.  Sehingga tidak bisa disandarkan bahwa itu merupakan sabda Rasulullah SAW. 

Akan tetapi matan dan substansi dari hadits tersebut, sesungguhnya menunjukkan bahwa para sahabat dan salafush-shaleh telah jauh-jauh hari mempersiapkan diri untuk menyambut bulan ramadhan. Sehingga ketika menjelang ramadhan tidak perlu di charge, dengan tarhib lagi. Karena secara kualitas dan kapasitas dan keilmuan serta praktiknya sudah cukup memadai. 

Pada tarhib ramadhan, seringkali kita menjumpai para ustadz, menyampaikan kajian dan taujih tentang fiqh, kaifiyah dan fadhilah ramadhan. Lengkap dengan semua dalil-dalilnya. Demikian juga disertai dengan kisah-kisah para salafush-saleh. Sesuatu yang memang dibutuhkan oleh umat saat ini. Yang seringkali lupa, karena berbagai aktifitasnya. Meskipun sesungguhnya, semua materi kajian itu, saat ini sangat gampang ditemui jika kita mau berselancr di dunia maya. Namun kajian live dari para ustadz, akan terasa lain. Meski tidak bisa taklim dengan duduk melingkar dalam sebuah majelis. Akan tetapi sekali lagi, dengan teknologi hal itu bisa terwakili. Bahkan kita bisa ngaji bareng dengan teman, keluarga, atau sesama muslim, berbeda tempat, daerah ataupun negara sekalipun. Intinya, saat ini kita dimanjakan dengan teknologi. Ingat, sebagai sebuah tools, teknologi itu bermata dua. Jika salah memanfaatkan akan menjad madhorot. Jika tepat menggunakannya akan menjadi kebaikan. 

Demikian juga selama bulan ramadhan ini. Selain tentu saja, sejak awal kita sudah memasang target yang maksimal, dan berharap lebih baik dari ramadhan sebelumnya. Bahkan, sangat berasalan jika Kita menyikapinya, bagaimana jika ramadhan kali ini merupakan ramadhan terakhir yang Allah SWT, berikan kepada kita. Tentu kita tidak akan menyia-nyiakan. Kita tidak akan santai. Sudah pasti akan serius dan khusyuk, bahkan habis-habisan, untuk berbadah dan sukses di bulan ramadhan kali ini. Apalagi, disaat yang sama, pandemi sedang berlangsung, yang menuntut kita untuk di rumah saja. Tentu, menjadi momentum yang tepat untuk selalu menjaga dan meningkatkan ibadah-ibadah kita, jika dibandingkan dengan kondisi normal yang menuntut kita bekerja tau beraktifitas di luar. Maka baca Al-Qur’an beserta terjemahan dan tafsirnya, menjadi salah satu kegiatan yang mesti diagendakan. Disamping melaksanakan ibadah-ibadah lainnya.

Imam al-Ghazali Dalam al-Tibr al-Masbuk fi Nashihah al-Muluk, secara metaforis menjelaskan, ”Dunia ini adalah persinggahan, bukan tempat menetap. Manusia adalah pengembara. Tanah air manusia dan tempat menetapnya adalah ruang dan waktu sesudah itu. Setiap tahun yang dilewatinya bagaikan satu tahapan perjalanan. Setiap bulan yang telah dilewatinya bagaikan istirahat sang musafir di perjalanan. Setiap pekan bagaikan bertemu sebuah desa. Setiap nafas yang berhembus bagaikan langkah-langkah kaki yang terus bergerak mendekati persinggahan terakhir.”

Dari sini sangat jelas, bahwa bulan ramadhan menjadi sebuah waktu dan tempat istirahat yang paling utama diantara tempat dan waktu istirahat itu. Sekaligus bulan untuk memacu berbagai ibadah didalamnya. Bukan berarti malah untuk santai. Sebab banyak peristiwa besar termasuk peperangan yang dimenangkan umat Islam. Olehnya dengan banyak fasilitas yang diberikan Allah SWT pada bulan ini, mesti dimanfaatkan semaksimal mungkin. Sehingga, siapa saja yang bisa maksimal beribadah di bulan Ramadhan, tentu akan mendapatkan “imbalan” yang baik pula. Barangsiapa yang menyia-siakan bulan ini, maka dia akan merugi

Belajar  dari Salafush Shaleh

Tidak mengherankan bila para salafush shaleh, benar-benar mengoptimalkan bulan ramadhan, karena keutamaannya itu. Beberapa kisah ini saya kutip dari https://kisahmuslim.com/4498-salaf-ash-shalih-di-bulan-ramadhan.html. Imam asy-Syafi’i mengkhatamkan Alquran sebanyak 60 kali di bulan Ramadhan. Beliau membacanya saat shalat dan di luar shalat. 

Abdullah bin Umar radhiallahu ‘anhu selalu berbuka bersama anak-anak yatim dan orang-orang miskin. Penghasilannya tidak ia nikmati sendiri, ia senantiasa membagikannya kepada orang miskin dan yang membutuhkan. Ayyub bin Wa-il ar-Rasibi pernah melihat Abdullah bin Umar mendapatkan uang sebanyak 4.000 dirham dan kain.

Qatadah bin Da’amah as-Sadusi, seorang tokoh tabi’in. Qatadah terbiasa mengkhatamkan Alquran setiap tujuh hari satu kali. Dan di bulan Ramadhan, beliau tingkatkan menjadi tiga hari sekali. Semangat beliau semakin bertambah ketika memasuki 10 hari terakhir Ramadhan, beliau mengkhatamkannya hanya dalam satu hari.

Sufyan ats-Tsauri. Karena banyaknya hafalan haditsnya, beliau dijuluki amirul mukminin fil hadits (pemimpin orang-orang yang beriman dalam bidang hadits). Apabila Ramadhan tiba, beliau meninggalkan ibadah-ibadah sunnah, lalu serius dan fokus pada membaca Alquran.

Dengan demikian, kita bisa berkaca, sebenarnya sejauhmana kualitas dan kuantitas kita jika dibandingkan dengan para shalafush shaleh itu, dalam beribadah di bulan ramadhan. Tentu sangat jauh bedanya. Bagaikan langit ke tujuh dengan dasar sumur yang kering. Namun, bukan berarti kita surut, atau kemudian malah nervous. Justru hal itu semua, menjadi motivasi kita, untuk lebih serius lagi dalam beribadah. Apalagi ditengah situasi pandemik, sebagaimana yang terjadi selama ini. Dan satu hal yang bisa jadi pegangan bagi kita di bulan ramadhan adalah sabda Rasulullah SAW, “Barangsiapa berpuasa Ramadhan atas dasar iman dan mengharap pahala dari Allah, maka dosanya yang telah lalu akan diampuni.”  (HR. Bukhari no. 38 dan Muslim no. 760).

Yang dimaksud berpuasa atas dasar iman yaitu berpuasa karena meyakini akan kewajiban puasa. Sedangkan yang dimaksud ihtisab adalah mengharap pahala dari Allah Ta’ala. (Lihat Fathul Bari, 4: 115).

Semoga kita menjadi salah satu yang dimaksud adalam hadits ini. Dan kita tidak galau, pesimis atau mengeluh dalam situasi esperti saat ini. Namun justru selalu optimis, dengan menikmatinya, melalui ibadah-ibadah yang di syariatkan, sebagi bukti ketertundukan dan penghambaan kita kepada sang Khaliq.  Wallahu a’lam

Author: Asih Subagyo

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.