Membangun Start-Up (lagi)


Seolah tiada kapoknya. Bagi sebagian entrepreneur, membangunstart-upadalah sebuah habbits. Bukan masalah serakah, tamak, loba atau tidak puas dengan raihan yang dicapai dan sejenisnya. Tetapi keterpanggilan jiwa, sebagai manifestasi dari keingingan untuk selalu berkarya dan memberikan yang terbaik, lebih dominan yang melatarinya. Idealnya memang, dalam membangun sebuah perusahaan rintisan itu adalah setelah di didirikan, di rawat dulu, hingga menjadi perusahaan yang survive, berkembang, besar,sustainserta berpengaruh hingga IPO dan menjadi perusahaan publik (terbuka). Dan sudah barang tentu memberikan profit yang maksimal bagi share holders. Baru kemudian dikembangkan. Itu, cara kerja otak kiri katanya. Cara kerja otak kanan beda. Sebab dalam membangun bisnis, seringkali tidak linear, tetapi eksponensia. Bukan deret hitung, namun deret ukur, dan seterusnya. Sehingga, syukur-syukur start-upyang dibangun bisa mencapai derajat unicorn. Sebuah tahapan ideal bagi start-up, yang seringkali di ukur dengan valuasinya yang mencapai 1 juta dollar atau dalam kisaran 15 triliun rupiah dalam kurs hari ini. Dan parameter prestasi seperti itu, biasanya yang menjadi motivasi & impian hampir setiap start-up.Meskipun kenyataannya, dalam membangun start-upitu, tidak bisa dikaitkan langsung dengan sukses dan gagalnya bisnis sebelumnya.

Mengapa demikian? Sebab, tidak selamanya gambaran ideal itu, dapat diraih oleh semua start-up. Hanya sedikit yang bisa mencapai derajat itu. Alih-alih bisa sampai tingkatan unicorn. Untuk berkembang dan survivesaja, kerap kali sulit untuk diraih. Akibatnya, perusahaan di downsizing, kemudian di freeze di tengah jalan, atau bahkan tidak sedikit yang kemudian bubar. Ibarat layu sebelum berkembang. Sebenarnya, sebuah hal yang wajar dan natural dalam dunia bisnis. Meski, masih menjadi tabu bagi sebagian orang. Semua tergantung sudut pandang dan parameternya. Tidak ada yang salah. Namun tidak bisa gegabah dan instan untuk menghakimi, dan tidak pula dengan mudah untuk defense dan mencari pembenar. Meski di telisik terlebih dalam, mengapa gagal, dlsb. Banyak faktor yang mempengaruhinya. Bisa dari aspek manusia, manajemen, produk, pemasaran, keuangan, legal, pajak dan lain sebagainya. Bahkan, bisa jadi gabungan dari berbagai hal itu.

Lessons Learned

Dari pengalaman pribadi dalam membangun beberapa start-up, serta pengalaman dari berbagai pihak, mengkonfirmasi bahwa banyak pelajaran yang bisa di ambil dari jatuh-bangunnya mengawal start-up itu. Didalamnya terdapat ilmu yang bermanfaat. Sebuah ilmu yang tidak di dapat dan diajarkan dari bangku pendidikan formal. Dan bahkan, tidak ditemukan di buku-buku text book. Ada mungkin sedikit disinggung di buku biografi dan kisah sukses atau gagal seorang entrepreneur.Namun, pelajaran yang didapat dari situ sesungguhnya hanya sedikit. Tidak memadahi untuk membangun sebuah perusahaan. Menurut saya pelajaran utama dal ilmu itu, justru diperoleh dari universitas kehidupan. Sebuah metode pendidikan, dengan cara terjun langsung. Dimana dosen dan mata kuliahnya berasal dari interaksi dalam kehidupan nyata. Dan nilai akhirnya, bisa berupa untung-rugi, gagal-sukses dlsb. Dan dari sini ilmu itu diperoleh. Tanpa harus mengesampingkan pendidikan formal atau membaca buku-buku dasar, ataupun buku how-to.

Beberapa contoh dari lesson learned itu misalnya, saya berpengalaman salah dalam memilih partner saat membangun start-up. Sehingga pecah kongsi. Dari sini banyak ibrah yang bisa di ambil. Tanpa harus menghakimi, siapa yang salah, dan siapa yang benar. Sebab, masing-masing punya subyektifitas dalam memberi penilaian, dan merasa yang paling benar. Jadinya, memaksa saya harus belajar psikologi perkembangan, belajar karakter manusia, bahkan belajar manajemen SDM serta bagaimana membangun team work. Bahkan dari sinisaya sempat jadi narasumber di berbagai pelatihan untuk menyampaikan materi membangun teamwork. Dan sudah barang tentu, materi dikembangkan based on experience.

Demikian juga saat pengalaman gagal dalam membuat produk. Sebuah kesalahan fatal, dimana saya lebih mementingkan apa yang bisa dibuat, dan dengan intellectual pride memanfaatkan teknologi terkini, agar terkesan canggih. Tanpa memperhatikan apa sesungguhnya yang dibutuhkan oleh konsumen. Akhirnya costlebih banyak yang terbuang, bersebab “produk gagal”. Olehnya, mengantarkan untuk mempelajari, memahami dan menerapkan product lifecycle, hingga melakukan test produk, riset pasar dan sebagainya. Sebuah pengalaman berharga, yang darinya di kemudian hari justru saya bisa berbagi di berbagai kalangan.

Tentu, masih banyak lesson learned yang bisa diceritakan. Tetapi dua hal di atas, paling tidak memberikan gambaran, bahwa kita tidak perlu meratapi kegagalan hingga nangis Bombay, dan pusing mengitari tiang listrik. Namun, dari kegagalan itulah memicu dan memacu diri, justru untuk berkarya lebih hebat lagi. Dan ini ternyata, banyak dilakukan oleh tokoh-tokoh yang kini dinilai dan nampak sebagai orang berhasil itu. Jadi intinya dare to fail (berani untuk gagal). Sebab, selalu ada hikmah dan kebaikan dari setiap kegagalan.

King Makers
Berawal dari kegagalan itu, lalu menumbuhkan keberanian untuk bangkit dari keterpurukan. Yaitu dengan terus berproses dan membidani lahirnya start-upbaru. Baik membidani lahirnya start-upyang dikembangkan sendiri, atau membantu lahirnya start-upbaru yang diinisiasi oleh orang lain. Dalam hal ini, saya sangat antusias untuk membantu generasi Milenial, dalam yang ingin membangun start-up baru. Olehnya, akhir-akhir ini, saya cukup concernmengawal beberapa anak muda untuk merancang start-up baru. Apalagi jika melihat fenimena bahwa, antusiasme, motivasi dan semangat generasi milenial untuk mendirikan start-up cukup tinggi. Tinggal diarahkan visi dan orientasinya, agar tidak jadi budak Kapitalis.

Sebagaimana pernah saya tulis sebelumnya, apa yang saya lakukan ini, bukan hanya saat ini saja. Namun, sudah sejak beberapa tahun lalu. Hal ini saya mulai dari staf di perusahaan lama dulu. Mereka saya dorong dan motivasi untuk melahirkan start-up. Bahkan sejak mereka masih bekerja. Dan saat ini, sebagian dari mereka ada yang berhasil dan ada pula yang gagal. Kini, adrenalin saya selalu naik jika melihat anak-anak muda yang punya greget dalam membangun start-up. Inginya terus berbagi dengan mereka. Berdiskusi, berbasis pengalaman empiris. Kemudian menghubungkan dengan kenalan, mitra dan partner, untuk membangun jaringan. Menemani silaturrahim dengan berbagai pihak dlsb. Tentu, saya kenalkan dengan akad-akad syariah. Memahamkan musyarakah, mudharabah, murabahah, ijarah, salam dan sebagainya. Serta bagaimana implementasinya dalam bisnis modern. Cukup menantang, sekaligus mengasyikkan. Saya sangat berbahagia menjadi bagian dari proses dan keberhasilan mereka nantinya. Dalam hal ini, saya mengambil peran dan menempatkan diri sebagai mentor. Dan dari sini berharap bisa jadi King Maker. Menjadikan mereka menjadi start-upyang handal, hingga mencapai unicorn dan merajai dalam berbagai bisnis. Atas dasar alasan inilah yang menyemangati saya untuk terus membangun start-up (lagi).

Wallahu a’lam.

 

Jagorawi, 5 Nopember 2018

Advertisements

Author: Asih Subagyo

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.