Corporate Spiritual


Sebagaimana dibahas dalam tulisan sebelumnya, bahwa kelas menengah muslim menjadi kunci dalam membangun sebuah bangsa. Dengan belasan fenomena tesebut -bahkan bisa jadi akan terus berkembang- ternyata juga mendeterminasi yang selanjutnya, secara sistemik -disadari atau tidak- telah mengubah perilaku mereka dalam menjalankan bisnis. Entrepreneur muslim dan pemilik perusahaan rintisan (start-up), bahkan eksekutif puncak perusahaan muslim sekalipun, rerata memasukkan nilai-nilai islam dalam menjalankan aktifitas bisnisnya. Dan ini menjadi semacam kesacaran kolektif (jama’i) yang terjadi di kalangan pengusaha dan juga profesional serta eksekutif muslim.

Spiritualitas agama (Islam), dengan berbagai aspek dan turunannya, dan dengan berbagai subyek (pelakunya), kini terus berkembang dan menjadi basis nilai pesatnya sistem ekonomi syariah di Indonesia. Fenomena ini sekaligus membantah teori Ian Marshal dan Danah Zohar yang memprediksikan bahwa dalam konteks bisnis modern, akan muncul spiritualitas tanpa agama sebagai landasan moral bisnis yang dia sebut sebagai spiritual capital (Marshal dan Zohar, 2004: 21). Ternyata yang terjadi malah sebaliknya. Kesadaran beragama, telah memasuki dalam praktek bisnis. Sehingga, kesadaran beragama yang kemudian diikuti dengan keinginan melaksanakannya dengan kaffah, menjadi fakta yang tak terbantahkan.

Meskipun sejatinya ini bukan “barang baru”, namun momentum untuk tumbuh dan berkembang kini mendapatkan ruang dan waktu. Perubahan seperti ini, kemudian mengubah suasana perusahaan menjadi lebih religius. Karena, nilai-nilai spiritualitas, mewarnai kehidupan perusahaan itu dalam menjalankan aktifitas bisnisnya. Dan istilah corporate spiritual, lahir dari sini. Selanjutnya, dengan konsisten diimplementasikannya corporate spiritual ini, maka bisa dikatakan bahwa Corporate Spiritual telah berpengaruh kepada corporate culture di sejumlah perusahaan muslim. Budaya perusahaannya, dipenuhi dengan nilai-nilai Islam. Satu sisi, mereka tetap menerapkan manajemen modern dengan seluruh aspeknya, sebagai prasarat untuk memasuki persaingan bisnis yang kian ketat. Disisi lain juga memasukkan nilai-nilai agama sebagai penunjang untuk membangun dan mempertahankan perusahaannya. Sehingga berbasis nilai dan spiritualitas. Dan dalam hal ini, biasanya mereka itu : owner, entrepreneur, eksekutif dan profesioal, adalah para kelas menegah yang telah tercerahkan, dan tersadarkan akan pentingnya memeasukkan nilai-nlai agama dalam menjalankan bisninya. Dan hal in menegaskan bahwa peran kelas menengah disetiap perubahan selalu menjadi kunci.

Olehnya, tidak jarang kita jumpai, suasana kantor di sebuah perusahaan, mirip dengan sebuah pesantren. Kegiatan bernuansa keagamaan dimulai sejak sebelum jam kerja. Dengan pengajian dan ngaji bareng. Busana muslim dan muslimah, biasa dikenakan oleh direksi hingga karyawannya, lengkap dengan kopiah atau hijab. Tidak sesikit yang di kantongnya, berisi mushaf saku. Demikian halnya dengan smartphone-nya, di penuhi dengan apps islami. Sementara screen saver di Laptop atau komputer di kantornya, juga bergambar yang religius. Tidak ketinggalan, di dinding kantor penuh dengan kaligrafi dan atau ornamen keislaman. Biasanya, gambar ka’bah menghiasi dinding ruang tamu atau di meeting room. Bersanding dengan kaligrafi, kutipan ayat, hadits, kata hikmah, bersandng dengan visi-misi perusahaan dlsb. Demikian juga halnya, saat mendengar adzan -biasanya dhuhur dan ashar-, semua berhenti beraktifitas, lalu bersama-sama menuju masjid untuk melakukan sholat berjama’ah. Sementara untuk yang perempuan, juga disediakan mushala di salah satu ruangan. Dan sejumlah amal shaleh lainya, seperti kebiasaan untuk puasa senin-kamis, ber-infaq, sholat dhuha, qiyamul lail (dengan membentuk tahajud call), kajiankeislaman dlsb.

Bahkan, disaat menyusun program dan rencana kerja (busines plan), maka dalam mengukur parameter keberhasilannya, termasuk didalamnya Key Performance Indicator-nya pun, sarat dengan nilai-nilai keagamaan. Bukan untuk dipaksakan, atau sekedar di cocok-cocokkan, tetapi telah berubah menjadi kesadaran. Ini sebuah revolusi. Revolusi keagamaan yang tidak bisa dibendung lagi. Kesadaran indiidu telah beruhah menjadi kesadaran korporasi. Dan kesadaran kolektif seperti ini, lambat laun akan menjadi sebuah gerakan perlawanan, atas dominasi ekonomi ribawi yang telah mapan. Meski sekarang masih, belum mampu mememenangkannya, namun gerakannya cukup dirasakan, oleh berbagai pihak. Olehnya upaya untuk menghambat, menghentikan dan membendung gerakan ini, dilakukan oleh pihak-pihak yang tidak suka, dengan berbagai metode dan cara. Dari yang soft, sampai yang hard. Intinya bagaimana nilai-nilai agama itu terpisah dari ekonomi dan bisnis. Namun sekali lagi, lajunya bagaikan snow balling, menggelinding dan terus membesar.

Dengan demikian maka, kesalehan individu (infirodi), telah berpengaruh kepada kesalahan sosial, dan selanjutnya mengubah ke-kesalehan dalam mu’amalah. Disinilah, kemudian corporate spiritual mengambil peran. Nilai-nilai spiritual (keagamaan) mendeterminasi setiap aktifitas di perusahaan. Ini sebuah quantum leap. Perusahaan yang biasanya dipenuhi dengan target-target dan angka-angka yang mengindikasikan, sebagai indikator kapitalis, kini mengalami perubahan makna. Bukan sekedar profit dan benefit yang dicari. Tetapi keberkahan. Dimana keberkahan ini, dalam terminologi islam merupakan ziyadatul khair, yaitu bertambahnya kebaikan. Sehingga, bukan tentang banyak keuntungan material yang di dapat. Tetapi lebih dari itu, sejauh mana kebaikan yang di dapat bertambah. Baik dalam arti jumlah, maupun dalam makna lainnya, yaitu banyaknya penerima kebaikan itu sendiri. Jika perusahaan sudah dibangun atas pondasi seperti ini, maka keberkahannya akan terus mengalir. Apalagi jika kemudian profitnya besar, benefitnya banyak dan berkah sekaligus. Maka, kemenangan umat dalam ekonomi akan menjadi dekat.

Trend Corporate Spiritual atau ada yang menyebut dengan istilah spiritual company ini, sebenarnya juga seiring dan sejalan dengan bagaimana SQ menjadi faktor penting dalam menjalankan bisnis. Sehingga, dalam sebuah perusahaan, indikator sumber daya insani yang terlibat didalamnya, bukan hanya di ukur sejauh mana profesional dan kecerdasannya, atau dalam lain adalah IQ nya. Juga bukan hanya soft skill, perilaku dlsb yang di manivestasikan dalam EQ nya. Namun lebih jauh dari itu, adalah bagaimana SQ, menjadi salah satau parameter dari perusahaan tersebut. Aspek spiritual yang dimaksud, bukan hanya melaksanakan ibadah ritual semata. Namun, bagaimana menjadikan seluruh aktifitas kehidupan itu bernilai sebagai ibadah. Sehingga, dengan kesadaran seperti ini menjadikan perusahaan (corporate), sebagai miniatur peradaban Islam.

Dengan demikian maka, Perusahaan muslim, sesungguhnya menjadi alat peraga, kepada pihak lain, bahwa bagaimana syariat Islam bisa ditegakkan dalam menjalankan bisnis. Tentu saja dalam aktifitasnya pasti menjauhi unsur MAGHRIB (Maysir, Gharar, Riba) dan dhalim. Sehingga semua partner bisnisnya, juga akan berhati-hati dan berhitung ulang jika akan berbuat curang atau mencurangi bisnis kita. Jika hal ini bisa dijalankan, maka corporate spiritua menjadi trend setter bagaimana menjalankan bisnis. Tentu saja tetap menjalankan dengan kaidah-kaidah profesional dalam kerangka bingkai manajemen dan bisnis modern. Disisi lain di combine dengan nilai-nilai Islam yang memang universal, dan tidak bertentangan dengan kaidah manajemen dan bisnis modern.

Dan, jika kita merujuk pada sirah nabawiyah, maka praktek-praktek corporate spiritual inilah, yang mengantarkan beliau menjadi saudagar dan pebisnis besar di jamannya. Dan dengan sepak terjangnya dalam hal bisnis (pedagangan) inilah, maka gelar al-amin (orang yang dapat dipercaya) melekat pada diri beliau. Dan bukankah al-amin itulah, yang saat ini yang dicari dalam dunia bisnis. Selanjutnya, jika kita terus menelusuri bagaimana aktifitas bisnis/perdagangan beliau, yang dilanjtkan dengan generasi sahabat, tabi’in dan tabi’ut tabi’n dan generasi seterusnya yang memegang teguh Qur’an dan Sunnah, maka dalam menjalankan bisnis menjadi satu tarikan nafas dengan menerapkan syari’at Islam yang di bingkai dalam fiqh mu’amalah. Dan nampaknya inilah yang kini ditinggalkan ummat Islam.

Maka, corporate spiritual yang berhasil adalah, jika semua aktifitas bisnis/perdagangan yang dilakukan dengan ber-itiba‘ kepada Nabi. Pun, demikian selalu merujuk al-Qur’an sebagai way of life, menjadikan sunnah sebagai panduan dan menjadikan sirah dan tarikh sebagai contoh implementasi, sekaligus benchmarking, yang di kontekstualkan dengan kondisi kekinian. Sekali lagi, jika bisa demikian, maka corporate spirtual ini, akan mejadi standard bagi perusahaan muslim. PR ke depan dalah ada semacam corporate spiritual index, yang bisa dijadikan ukuran bagi perusahaan muslim. Meskipun, spiritualitas itu tidak bisa di kuantisir dan tergantung kepada pelaku di dalamnya, Namun jika hal ini ada, maka akan menjadi guidance bagi pengusaha muslim maupun start-up, untuk menjalankan bisnisnya dengan kaidah dan cara yang islami.

Wallahu a’lam

Depok, 3 Mei 2018

Advertisements

Author: Asih Subagyo

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.