Duta Barat di Negeri Timur


Tulisan ini diilhami dari artikel Prof. Didin Damanhuri yang dimuat dalam Buku Menuju Ketangguhan Ekonomi, Sumbang Saran 100 Ekonom Indonesia. Para Ekonom yang terhimpun dalam INDEF itu, sebuah lembaga pemikiran ekonomi yang cukup terkemuka di negeri ini, tahun lalu menerbitkan buku, yang menurut saya kumpulan dari kritik yang solutif berkenaan dengan kondisi ekonomi serta desain ekonomi negara ini ke depan. Ada empat tema besar yang di kupas di buku itu, yaitu : (1) kredibilitas fiskal, (2) produktifitas dan daya saing, (3) likuiditas perekonomian dan (4)pertumbuhan berkualitas. Bagi saya, tulisan-tulisan tersebut ibarat ringkasan atau resume kuliah yang merupakan narasi besar para ekonom terkemuka negeri ini, yang dihidangkan dan siap di santap. Berbagai aspek di kupas disitu. Dengan latar belakang pendidikan penulis, serta pekerjaan yang di emban mereka saai ini, maka kumpulan tulisan itu, menjadi kian menarik, mencerahkan dan menggairahkan, bagi mereka yang menyukai bidang Ekonomi.

Kembali ke pokok soal sebagaimana di judul tulisan ini. Prof. Didin, meski memaparkan kepada kita pada tulisan itu, cukup ringkas untuk memotret tentang kondisi ekonomi bangsa kita. Beliau mengkritisi bahwa, para teknokrat yang berada dalam lingkaran kekuasaan, masih saja melakukan pendekatan dengan menggunaka istilah ideologi pertumbuhan ekonomi (growth oriented) yang tidak tepat. Karena, mengutip Michael P Todaro, beliau sampaikan bahwa,”pembangunan ekonomi bukan hanya mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi, melainkan juga memecahkan problem kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan yang sering menjadi penghambat kemajuan dan pertumbuhan berkelanjutan yang berkualitas.”. Darinya beliau sampaikan beberapa madzhab pendekatan ekonomi, berkenaan dengan bagaimana, semua model ekonomi saat ini seringkali mengukur kemajuannya berdasarkan pada pencapaian yang tinggi. Ada tiga model yang beliau paparpakan, dan kemudian darinya dijadikan pisau analisis untuk membedah sistem ekonomi negeri ini. Yang senyatanya, tidak memiliki sistem ekonomi sendiri , selain hanya mengekor dan mengikuti madzhab yang ada. Dimana, madzhab tersebut bisa jadi tidak cocok diterapkan di negeri ini. Dan hanya tepat diimplementasikan dimana madzhab itu lahir. Sementara, bangsa Timur juga memiliki kearifan lokal, yang seharusnya juga membentuk sistem ekonominya sendiri. Bukan seperti saat ini, bangsa ini menjadi pengekor dari sistem Barat. Dan seringkali di negeri Timur, pertumbuhan tinggi, tetapi secara empiris, pada saat yang bersamaan, terjadi pula ketimpangan yang memburuk, kerusakan ekologis, makin menumpuknya utang luar negeri, dan rakyat kebanyakan tetap termarjinalkan. Olehnya beliau menyebutkan bahwa jangan-jangan negeri ini hanya menjadi Duta Barat di negeri Timur.

Dan sesungguhnya, simpulan beliau itu, bukan atas apa yang beliau tulis sendiri. Namun, jika di bedah juga merupakan simpulan dari tulisan 100 Ekonom lainnya.. Disisi lain, hal ini ini juga menegaskan bahwa Ekonomi Pancasila (EP) yang selama ini diklaim menjadi ekonomi asli negeri ini, yang bersumber dari dasar dan falsafah negara, menjadi tidak nampak. EP ini, mengemuka di pertengahan hingga akhir era orde baru, dan kemudian justru meredup pada saat era reformasi. Dan hilang dari pembicaraansaat ini. Ternyata mengkonfirmasi bahwa EP tidak mampu (atau tepatnya belum mampu) menjawab persoalan ekonomi bangsa ini. Atau bisa jadi, konsep EP itu benar, berada di tangan pimpinan yang salah, dan tidak ada political will , maka akibatnya implementasinya juga salah. Karenanya, negeri ini terus menerus mencari alternatif ekonomi lainnya, dan akibatnya tetap saja bangsa ini menjadi pengekor, bangsa follower.

Di lain pihak geliat ekonomi Islam kini juga terus berkembang. Buktinya secara statistik, ekonomi islam dengan berbagai turunannya terus bertumbuh. Sehingga banyak perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta berlomba-lomba membuka jurusan ekonomi islam dan turunannya. Bahkan terjadi pula di PTN/PTS umum, dari jenjang S1, S2 hingga S3. Didukung oleh peminat yang ingin masuk prodi tersebut selalu banyak. Meski kenyataan ini menjadi paradoks. Disaat negara berkutat di sistem ekonomi neo liberal (bahkan kini mendekat ke china yang menerapkan state capitalism), tetapi rakyatnya berkehendak dengan sistem ekonomi Islam. Sementara Ekonomi Pancasila hilang dari perbincangan Ekonom jaman Now. Ini menjadi tantangan tersendiri yang harus di jawab oleh para ekonom muslim. Bisa jadi beririsan dengan keinginan 100 ekonom INDEF tersebut.

Jika pendulum terus mengarah ke ekonomi islam, sementara kesiapan SDM di bidang ini juga terus di produksi. Maka bisa diprediksi bahwa masa depan ekonomi islam di negeri ini semakin cerah, dan mendapatkan tempat. Meski saat ini kue ekonomi Islam masih belum sebesar ekonomi konvensional, tetapi sebagaimana disebutkan di atas, pertumbuhannya cukup significant. Dan selanjutnya akan menggantikan sosialis dan kapitalis dengan seluruh turunan dan variannya yang sudah terbukti gagal itu. Semoga ini menjadi kenyataan. Karena Islam itub ukan Sosialis dan bukan Kapitalis, namun meliputinya. Olehnya, dengan PD, slogannya perlu kita ganti Menjadi Duta Islam di negeri Muslim. Wallahu a’lam

 

Depok, 27/01/2018 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.