Bangsa Konsumtif


Dulu, ketika masih SD dan SMP, dipaksa oleh guru IPS/Geografi untuk menghafal bahwa, Indonesia selalu menduduki peringkat 1-2 komoditas, baik hasil pertanian, perkebunan, kehutanan termasuk hasil tambang. Bagaimanapun juga, saat itu negara ini juga mengalami swasembada pangan, di berbagai sektor. Dan data-data tersebut cukup membanggakan sebagai anak bangsa. Menegaskan bahwa negara ini, memang gemah ripah lohjinawi, toto tentrem kerto raharjo, tukul tan sarwo tinandur dst. Dan mengkomfirmasi apa yang jadi syair lagu Koes Plus, tongkat dan kayu jadi tanaman.

Tetapi meski demikian hebatnya, sejak setelah merdeka, hingga saat ini, bangsa ini masih belum mampu untuk memproduksi kebutuhannya sendiri. Jika itu terkait dengan kebutuhan sekunder dan tersier, mungkin masih bisa dimaklumi. Namun jika berkait dengan kebutuhan primer (pokok), maka pasti ada yang salah dengan pengelolaan bangsa ini. Mari kita lihat, sumberdaya alam sangat melimpah dinegeri ini. Tetapi anehnya dari tahun ke tahun selalu saja negeri ini mengekspor bahan mentah ke luar negeri. Ada sedikit perbaikan dengan mengekspor bahan setengah jadi, Continue reading

Advertisements