Narasi Besar


Tidak ada pemimpin besar dunia, yang tidak membersamai dirinya dengan narasi besar. Sebut saja nama mereka yang dalam catatan sejarah sebagai orang besar, pasti membersamainya adalah narasi besar. Baik tertulis, ucapan yang disampaikan, dan torehan sejarah yang dilakukan. Sebab dari situ, seseorang bisa dinilai dan diketahui visinya. Bahkan bisa di tebak apa bacaannya, apa isi kepalanya, dengan siapa bergaul dan lain sebagainya.

Tidak ada pemimpin besar, yang dalam perjalanan hidupnya yang tidak akrab dengan ilmu. Jika ternyata kita jumpai model pemimpin yang tidak akrab dengan ilmu, maka bisa dipastikan mereka pemimpin KW, pemimpin palsu, bahkan bisa jadi sekedar pemimpin boneka. Dia menjadi pemimpin karena ditugaskan dan seterusnya. Dan demokrasi, memfasilitasi hadirnya model tanpa narasi. Tetapi dibesarkan oleh media, dan juga hasil pencitraan.

Sehingga Narasi Besar pasti lekat dengan pemimpin. Sebab berbekal bacaannya itu, setiap aktifitas dan perkataan yang dikeluarkan, bisa mengilhami, orang lain untuk ikut bersama, menjadi bagiannya untuk merealisasikannya. Bukan dilihat dari penampilan atau perkataannya yang sekedar pencitraan, apalagi menipu. Selain itu, narasi besar juga lahir dari interaksi selama ini. Darinya dia mendapat pengalaman empiris yang akan memperkuat data dan fakta, dari narasi besarnya kelak. Narasi Besar hasil dari pengalaman, akan lebih kuat dan bisa berbicara lebih tajam, dari pada yang hanya study pustaka. Inipun ternyata juga berlaku sebagai kaidah dalam tulisan ilmiah.

Narasi Besar itu bukan omong kosong. Bukan bualan. Bukan tulisan indah tanpa makna. Tetapi, Dia bisa berwujud visi. Berupa Grand Strategy. Blue Print. Roadmaps dan lain sebagainya. Apapun itu, yang jelas dia bisa berupa pokok pikiran, yang menginspirasi, dan sampai dengan teknik implementasi.

Pernyataan Menuntut Kenyataan.

Narasi besar, bukan hanya janji-janji kosong calon kepala negara atau calon kepala daerah yang berteriak-teriak di mimbar kampanye. Dengan ramuan dan bualan maut untuk rakyat. Kata-kata yang indah dan membius. Sehingga mampu menghipnotis rakyat untuk memilihnya. Lantas setelah terpilih, tidak satupun janjinya di tunaikan dengan berbagai alasan.

Darinya maka menjadi benar, bahwa setiap pernyataan menuntut kenyataan. Sehingga sebelum membuat narasi besar, tentunya bahwa semuanya itu harus jelas dan terukur. Ada target yang hendak dicapai, kapan dicapai, bagaimana cara mencapainya dan sebagainya. Artinya, ada aktifitas berfikir sebelum bertindak. Merencanakan sebelum melaksanakan, dan hal sejenis lainnya.

Think Globally Act Locally
Narasi besar, tidak mungkin, mustahil atau minimal sulit diterapkan pada saat yang bersamaan, dalam satu satuan waktu. Dia perlu strategi. Bertahap. Tidak langsung jadi. Sehingga narasi besar juga harus dibarengi dengan tahapan, berdasarkan skala prioritas. Gagasan besar, diikuti dengan aksi lokal. Bisa jadi dari yang kecil, dan terus membesar. Bisa juga dari hal-hal kecil, yang nanti saling terhubung. Ibarat puzzle yang di satukan.

Gagasan boleh melangit, namun kaki tetap harus berpijak di bumi. Sebagaimana saya sebutkan di atas. Narasi besar itu meski implemented. Dan disinilah ujian sebuah narasi itu, membumi atau tidak. Tetapi bagaimana bisa jadi orang besar, jika tidak memiliki narasi besar. Maka, mari kita terbiasa untuk bernarasi besar, sambil mengujinya dilapangan.

Narasi Nabi

Rasulullah SAW adalah manusia paripurna. Narasinya, selalu melintasi jalannya. Tidak berhenti disuatu masa. Tidak dikungkung dalam dimensi ruang dan waktu. Beliau selalu dalam bimbingan Allah SWT. Melalu wahyu yang turun, dan itu terus disampaikan kepada sahabatnya masa itu. Ada transfer of knowledge dan value sekaligus. Melalui lisan dan juga perbuatannya. Dan kemudian itu menjadi sunnah. Semua terangkum indah dalam sirah dan kitab-kitab hadits, yang terverifikasi dengan ketat sanadnya.

Maka jika kita mencari dalam hadits, berkenaan dengan nubuwat, atau prediksi masa depan adalah sebuah kepastian. Dan kita bisa buktikan bagaimana kehancuran persia dan Romawi yang beliau sampaikan. Dan masih banyak lagi. Dan salah satu, yang insya Allah akan terjadi pula, adalah hadits berikut : “Kenabian telah terwujud di antara kamu sesuai dengan kehendak Allah. Kemudian Dia akan menghilangkannya sesuai dengan kehendak-Nya, setelah itu ada Khilafah yang sesuai dengan kenabian tersebut, sesuai dengan kehendak-Nya pula. Kemudian Dia akan menghapusnya juga sesuai dengan kehendak-Nya. lalu ada Raja yang gigih (berpegang teguh dalam memperjuangkan Islam), sesuai dengan kehendak-Nya. Setelah itu ada seorang Raja diktator bertangan besi, dan semua berjalan sesuai dengan kehendak-Nya pula. Lalu Dia akan menghapusnya jika menghendaki untuk menghapusnya. Kemudian ada Khilafah yang sesuai dengan tuntunan Nabi. Lalu Dia diam”. Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad (IV/273).
Tentu semuanya itu tidak datang begitu saja. Ada upaya, ada perjuangan secara sunatullah dan secara syariat meski dilalui. Kita mesti mengupayakannya, dan terus berusaha. Soal hasil, itu hak Allah SWT.
Wallahu a’lam

Depok, 17/01/2018

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s