Kejujuran


Jujur itu hebat. Begitu salah satu tagline yang sering kita jumpai di poster,  di spanduk yang di pasang di jalan-jalan, atau yang di broadcast diberbagai media, termasuk medsos, hasil besutan lembaga anti rasuah, KPK. Sekilas tagline itu benar dan mengandung kebenaran. Tetapi jika ditelisik lebih jauh, bisa dimaknai sebagai pelecehan. Disatu sisi seolah kejujuran menjadi barang langka, dan susah ditemukan di negeri ini.

Sehingga siapapun yang jujur, terkesan hebat. Padahal, seharusnya jujur itu menjadi sikap dasar setiap manusia. Artinya jujur itu default bagi setiap muslim yang embedded, di jiwanya. Di lain pihak, seolah menunjuk hidung, bahwa semua anak bangsa ini, penipu, pembohong, maling, rampok, koruptor dlsb, tidak ada yang jujur. Kalo begini jadinya, juga termasuk komisioner dan pegawai KPK juga. Sebuah premis multitasfir.

Meski saya tahu, bahwa maksud dari KPK tidak seperti itu. Karena banyaknya perilaku pejabat, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif serta mereka yang kong kalikong dengan para pejabat itu yang tidak jujur. Maka premis jujur itu hebat menjadi seolah wow. Artinya bisa saya simpulkan, jika kejujuran dari orang yang tidak jujur dijadikan parameter kehebatan, maka definisi jujur menjadi melemahkan makna. Sehingga dengan kata lain, jujurnya orang yang tidak jujur, justru berarti menegaskan ketidakjujuran itu sendiri. Tambah mbulet, tapi coba renungkan. Mereka yang tertangkap KPK, apakah itu OTT atau model lain, justru tidak jujur. Mesti dia jadi justice collaborators, atau whistle blower, saat persidangan tetep aja.

Memaknai Kejujuran.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia ju·jur a 1 lurus hati; tidak berbohong (msl dng berkata apa adanya); 2 tidak curang (msl dl permainan, dng mengikuti aturan yg berlaku): mereka itulah orang-orang yg — dan disegani; 3 tulus; ikhlas;
ke·ju·jur·an n sifat (keadaan) jujur; ketulusan (hati); kelurusan (hati): ia meragukan ~ anak muda itu.

Dari penjelasan KBBI di atas, jujur bisa berarti given, alias bawaan sejak lahir. Hal ini bisa kita fahami dari definisi 1 dan 3. Tetapi jujur juga berarti proses, sebagaimana arti no 2. Sehingga jujur dan kata sifatnya sebagai kejujuran itu, bisa diupayakan dan di latih. Barangkali ini yang dimaksud oleh KPK tersebut

Jujur dalam Islam

Islam menjadikan kejujuran sebagai bagian yang melekat pada diri orang yang beriman. Hal ini dapat dilihat dari beberapa dalil-dalil, baik yang terdapat dalam Al Qur’an maupun As Sunah.

Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amal-amalmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu.Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. [Al-Ahzab : 70 – 71]

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat ? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan.[Ash-Shaff : 2 – 3]

Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku : “Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (benar). Sesungguhnya syaitan (suka) menimbulkan perselisihan diantara mereka. Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi manusia”. [Al-Israa’ : 53]

Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq RA ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda : “Wajib atasmu berlaku jujur, karena jujur itu bersama kebaikan, dan keduanya di surga. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena dusta itu bersama kedurhakaan, dan keduanya di neraka”. [HR. Ibnu Hibban di dalam Shahihnya]

Dari Ibnu Mas’ud RA ia berkata : Rasulullah SAW bersabda : “Wajib atasmu berlaku jujur, karena sesungguhnya jujur itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu membawa ke surga. Dan terus-menerus seseorang berlaku jujur dan memilih kejujuran sehingga dicatat di sisi Allah sebagai orang yang jujur. Dan jauhkanlah dirimu dari dusta, karena sesungguhnya dusta itu membawa kepada kedurhakaan, dan durhaka itu membawa ke neraka. Dan terus menerus seorang hamba itu berdusta dan memilih yang dusta sehingga dicatat di sisi Allah sebagai pendusta”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi menshahihkannya dan lafadh baginya]

Dari Ubadah bin Shamit RA sesungguhnya Nabi SAW bersabda : “Hendaklah kalian menjamin padaku enam perkara dari dirimu, niscaya aku menjamin surga bagimu : 1. Jujurlah apabila kamu berbicara, 2. Sempurnakanlah (janjimu) apabila kamu berjanji, 3. Tunaikanlah apabila kamu diberi amanat, 4. Jagalah kemaluanmu, 5. Tundukkanlah pandanganmu (dari ma’shiyat) dan 6. Tahanlah tanganmu (dari hal yang tidak baik)”. [HR. Ahmad, Ibnu Abid-Dunya, Ibnu Hibban di dalam shahihnya, Hakim dan Baihaqi]

Dari Abdullah bin ‘Amr RA ia berkata : Sesungguhnya ada seorang laki-laki datang kepada Nabi SAW, lalu bertanya : “Ya Rasulullah, apakah amalan surga itu ?” Rasulullah SAW bersabda : “(Amalan surga itu ialah) jujur. Apabila seorang hamba itu jujur berarti dia itu baik, apabila baik dia beriman dan apabila dia beriman maka dia masuk surga”. Orang itu bertanya lagi : “Ya Rasulullah, apakah amalan neraka itu ?” Rasulullah SAW bersabda : “(Amalan neraka itu ialah) dusta. Apabila seorang hamba itu berdusta berarti dia durhaka, apabila durhaka dia kafir dan apabila kafir maka dia masuk neraka”. [HR. Ahmad]

Dari Abu Buraidah Al-Aslamiy RA ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Ketahuilah, sesungguhnya dusta itu menghitamkan wajah dan namimah itu (menyebabkan) siksa qubur”. [HR. Abu Ya’la, Thabrani, Ibnu Hibban di dalam Shahihnya dan Baihaqi]

Dari Anas bin Malik RA ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda : “Ada tiga perkara yang apabila tiga perkara itu ada padanya maka ia adalah orang munafiq, meskipun ia puasa, shalat, hajji, umrah dan mengatakan : “Sesungguhnya saya orang Islam”, yaitu : 1. Apabila berbicara ia berdusta, 2. Apabila berjanji menyelisihi dan 3. Apabila diberi amanat ia khianat”. [HR. Abu Ya’la]

Dari Abdullah bin ‘Amr bin Al-‘Ash RA, ia berkata : Sesungguhnya Nabi SAW bersabda : “Ada empat perkara barangsiapa yang empat perkara itu ada padanya maka ia adalah orang munafiq yang sebenarnya. Dan barangsiapa ada padanya satu bagian dari yang empat perkata itu berarti ada padanya satu bagian dari kemunafiqan sehingga ia meninggalkannya, yaitu : 1. Apabila diberi amanat ia khianat, 2. Apabila berbicara ia berdusta, 3. Apabila berjanji menyelisihi dan 4. Apabila bertengkar ia curang”. [HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi dan Nasai]

Dan sesungguhnya banyak dalil, baik dalam Al Qur’an dan As-Sunah yang menekankan pada sifat jujur dan kejujuran ini. Sehingga, sesungguhnya jujur itu tidak hebat, tetapi memang sudah harus melekat pada diri muslim. Jadi bagi muslim, jujur adalah kewajiban. Wallahu a’lam

Jakarta, 11/01/2018

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.