Mendesain Masa Depan


Ini tentang kisah 3 lelaki, yang berbeda usia. Duduk melingkar di saung. Di depan sebuah pondok pesantren yang megah. Bakda Ashar. Saat mentari menuju persembunyiannya. Berganti bulan purnama dan bintang-gemintang yang menggantung di langit. Saung kecil itu, hanya berdimensi 2 x 2m. Beratap ijuk, beralaskan bambu. Beberapa bulan yang lalu. Tetapi masih terekam indah, dalam memory ini. Pertemuan Berkelas. Membekas.

Tiga pria, duduk bersila, saling berhadapan. Ini, bukan tentang kenduri. Atau santri yang talaqi, setoran, berhadapan dengan Ustadz atau Kyai nya. Bukan pula, guru yang sedang mengajar dan berhadapan dengan muridnya. Bukan konsultan yang memberikan advise dan berhadapan dengan klien-nya. Tetapi tentang keakraban, makhluk Allah. Tentang hubungan ayah dan anak. Tentang hubungan antar saudara. Tentang Empati. Tentang masa depan. Tentang peradaban. Mereka saling hormat, namun tetap akrab, seolah tiada sekat. Sesekali terdiam, syahdu dalam suasana serius, sesekali gelak tawa terdengar renyah.

Ini bukan membahas hal yang remeh-temeh, dan ecek-ecek. Sebagaimana dibicarakan kebanyakan anak remaja jaman now. Ini pembicaraan melompati usianya. Ini pembicaraan melintasi dimensi ruang dan waktu. Melintas cakrawala, menghadirkan masa depan. Bukan soal umur mereka yang belia, lantas haram berbicara tentang narasi besar. Ini bukan soal kids jaman now yang cenderung alay bin lebay. Ini bicara tentang peradaban. Bagaimana direkonstruksi kembali.

Sebagai yang lebih tua, dan telah membaca, saya berbicara banyak hal, dari berbagai referensi. Saya kenalkan teori umran dan ashobiyahnya Ibnu Khaldun, tentang bagaimana sebuah peradaban di bangun dan dikonstruksi. Hingga bagaimana Malik bin Nabi yang mewakili sarjana modern, memberikan prasyarat sebuah peradaban di tegakkan. Kami bicara tentang jatuh-bangunnya peradaban. Kokoh dan runtuhnya dinasti. Bangkit dan tenggelamnya kekuasaan. Dari berbagai sudut pandang. Kampung juga berbicara tentang bagaimana ketika kekhalifahan tegak, yang terbukti menyatukan dan mensejahterakan seluruh umat. Dan mengapa mereka jatuh atau dijatuhkan, bersebab perilaku para khalifah dan orang-orang disekitarnya yang hedonis dan jauh dari nilai islam. Kami bicara tentang kesetiaan dan penghianatan. Hingga kemudian, munculnya negara bangsa (national state). Dan bersebab ini pula runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani oleh Mustafa Kamal Pasha, yang dalam kaca umum (yang di endorse barat) sebagai pemuda moderat dijamannya. Lalu kita bicarakan, bagaimana upaya menegakkan kembali yang terus bermunculan diberbagai belahan dunia. Dan pada saat bersamaan diberangus oleh negara, karena dianggap berbahaya. Fundamentalis, tidak Nasionalis, teroris dan tuduhan sejenisnya.

Saya sampaikan pula bahwa ada kecurangan Barat, saat mereka menghilangkan 500 tahun, yang menurut mereka sebagai masa dark age. Mereka dengan sengaja, memutus mata rantai sejarah. Padahal, ketika itu Islam dalam masa keemasan (golden age). Ilmu pengetahuan dan teknologi Islam saat itu mendominasi peradaban, berkembang pesat. Dengan didukung oleh kekhalifahan yang memang cinta ilmu. Sebagaimana Barat yang mendominasi iptek saat ini. Mereka berhutang budi kepada ilmuwan Islam. Ada yang jujur mengakui, tetapi banyak yang menegasikan peran umat Islam.

Kami bicara juga, bagaimana kolonialisme menjahah negeri ini. Saya tunjukkan perlawanan ulama atas penjajahan itu, dari seluruh penjuru dunia. Mereka kobarkan jihad fii sabilillah. Demi berdiri dan tegaknya negeri ini. Hingga memunculkan tokoh-tokoh, serta kemerdekaan Indonesia. Saya tunjukkan bahwa sebelum perang dunia II, tokoh perlawanan di Indonesia, sangat sedikit jika bisa dibilang tidak ada yang non-umuslim. Rata-rata ulama, atau tokoh Islam. Sejarah tidak bisa menipu. Dan umat Islam, olehnya pewaris sah negeri ini. Pemilik saham terbesar, berdirinya negeri ini. Apa yang terjadi menjelang dan pasca kemerdekaan, hingga kekinian. Saya tidak sedang mengajarkan SARA, tetapi berbicara data dan fakta secara obyektif.

Kemudian, kami kupas bagaimana sesungguhnya pertarungan yang ada di semua aspek kehidupan ini, muaranya adalah pertarungan ideologi. Yang nampak dipermukaan itu, hanya kembang-kembangnya saja. Semua terkupas, meski belum tuntas. Fragmen-fragmen itu yang dikisahkan dan dituturkan oleh sejarah.

Saya berpendapat, anak muda mesti tahu sejarah. Tidak boleh buta sejarah. Dari melek sejarah inilah, maka mereka bisa mendesain masa depan. Dan satu hal yang penting, bahwa mereka yakin masa depan ini milik Islam. Dan mereka harus terlibat dalam merekonstruksi Peradaban itu. Dan menunjukkan bagaimana Peradaban Islam bisa tegak lagi. Semua ditegakkan dengan ilmu. Meski terasa, masih jauh dan terkesan bicara diawang-awang. Tetapi transformasi itu, mesti selalu dilakukan. Dan sedari dini, anak sudah selayaknya dididik untuk mendesain masa depan mereka sendiri, yang berpijak dari aqidah yang benar. Dan sudah barang tentu dalam pendampingan kita, sebagai orang tuanya.

Mereka berdua, baru usia SMA. Saya tidak tahu apakah mereka faham tentang semua yang saya sampaikan. Saya juga tidak tahu kelak mereka akan membuat sejarah atau digilas sejarah. Tugas saya sudah tunai, yaitu menyampaikan apa yang saya pahami. Mereka akan menverifikasi dengan bacaan dan interaksi mereka juga. Dan jalan itu masih panjang. Meski banyak lagi yang ingin saya sampaikan, tetapi waktu kunjung telah usai. Dan adzan Maghrib telah bergema. Saung telah menjadi saksi. Bahwa transfer of value dan spirit  telah terjadi di sini. Semoga mereka dibimbing Allah SWT untuk menggapai kebenaran. Wallahu a’lam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.