Posted in Entrepreneurship, IT, Kronik

Creative Economy untuk Manusia Kreatif dan Berkarakter


creativeDitengah-tengah ributnya implementasi Kurikulum 2013, yang telah di evaluasi dan kemudian dihentikan pelaksanaannya oleh Mendikbud Anies Baswedan, PhD beberapa hari yang lalu. Saya tidak tahu apakah ini anugerah atau musibah. Sekali lagi saya tidak mau masuk kewilayah itu, lantas berpolemik tentang mengapa K-13 itu dihentikan pelaksanaannya. Namun saya ingin mengajak kita  semua untuk mencoba menelisik lebih jauh bagaimana pendidikan negeri ini. Dapatkah  melahirkan manusia-manusia kreatif yang mampu survival untuk dirinya sendiri dan kemudian memenangkan pertarungan di tingkat global. Saya tidak tahu persis, karena saya bukan pakar pendidikan, tetapi saya meyakini bahwa kreatifitas seseorang selain tentu saja given, yang merupakan bakat pemberian dari Allah SWT, saya juga meyakini, bahwa kreatifitas ity bisa di dapat dari proses pembelajaran  dan pelatihan yang intensif dan benar. Maka pendidikan merupakan salah satu kunci untuk melahirkan manusia kreatif itu.

Sebab, apapun alasannya, mulai tahun depan, yang tinggal beberapa hari lagi, kita dipaksa dan terpaksa menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) mau atau tidak mau, siap atau tidak siap. Dimana konsekwensi logisnya, kita akan dapati kompetisi bebas akan hadir disitu. Kita akan bertarung dengan komunitas masyarakat Asean hampir di semuaa bidang, dengan kondisi apapun juga. Sebuah tahapan awal dalam rangka pertarungan global. Sebagaimana diketahui, pembentukan pasar tunggal yang diistilahkan dengan Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) ini nantinya memungkinkan satu negara menjual barang dan jasa dengan mudah ke negara-negara lain di seluruh Asia Tenggara, sehingga kompetisi akan semakin ketat. Sehingga, Masyarakat Ekonomi Asean ini, tidak hanya membuka arus perdagangan barang atau jasa, tetapi juga pasar tenaga kerja profesional, seperti dokter, pengacara, akuntan, IT, dan lainnya. Selanjutnya, selain pertarungan pada aspek profesionalitas tersebut, tentu kita akan memasuki tahapan baru yaitu creative economy. Dimana pertarungannya tidak hanya pada adu skill, tetapi sejauh mana manusia-manusia kreatif bertarung di situ, industri kreatif bisa tumbuh dan tegak berdiri disitu dan akhirnya bangsa kreatif bisa kokoh dan memenangkan pertarungan di situ. Sehingga, siapa yang lebih kreatif, dialah sesungguhnya yang mampu memenangkan persaingan saat ini dan masa depan. 

Nah untuk itu semua, perlu disiapkan manusia kreatif yang berkarakter untuk menghadapinya. Saya yakin manusia kreatif dan berkarakter ini, lahir dari proses yang kreatif pula. Dia tidak dikekang oleh segepok aturan (baca = kurikulum) yang kemudian membelenggu anak didik untuk berfikir bebas.  Sehingga, selain masalahan agama, tentu saja anak diarahkan untuk mampu menuangkan ilmu pengetahuannya, secara kreatif. Meskipun demikian, tetap di batasi oleh norma dan nilai-nilai keimanan yang melandasinya. Bebas tetapi terbatas dan terbatas tetapi bebas.

Manusia-manusia kreatif dan berakarakter itu, tentu lahir dari pendidikan yang didesain sebagaimana tersebut di atas. Sebuah proses pendidikan yang dapat mengantarkan anak didiknya mampu mengelaborasi nilai-nilai keimanannya dalam karya-karya yang kreatif. Sehingga kreatifitasnya tidak mati, karena mereka salah dalam memahami larangan (batasan). Namun bagaimana kreatifitasnya tumbuh, subur dan berkembang, bukan malah menjauh dari nilai-nilai keimanan, melainkan semakin mendekatkan diri pada sang pencipta-Nya. Kreatititas yang mungkin berupa produk atau jasa yang dihasilkannya, tidak membuat dirinya sombong dan takabur kepada Allah SWT, akan tetapi justru semakin sadar bahwa, dia tidak mampu berbuat apa-apa, jika tidak mendapatkan ridho dari Allah SWT. Sehingga semakin seseorang kreatif justru semakin menambah ketaatannya kepada Allah SWT. Nah kreatifitas seperti inilah yang seharusnya dilahirkan. Sebuah kreatifitas yang berkarakter. Sulit memang, namun bukan berarti tidak bisa dilakukan. Dan inilah tantangan sesungguhnya.

Kreatifitas Bangsa Asia

Tentu kreatititas seseorang, ternyata tidak bisa disahkan dari latar belakang dan kultur yang selama ini membentuknya. Sebagai bangsa Asia, tentu saja penjelasan di atas, merupakan tantangan yang pasti dihadapi. Dan sejatinya manusia kreatif serta berkarakte itu merupakan prasyarat ideal yang perlu disiapkan. Namun, mampaknya kita perlu melihat lebih jernih, seberapa kreatifkah kita, sebagai bangsa yang menghuni benua Asia ini. Saya beruntung mendapatkan posting di group WhatsApp beberapa waktu lalu, terkait dengan kreatifitas bangsa Asia ini. Adalah  Prof. Ng Aik Kwang dari University of Queensland, dalam bukunya “Why Asians Are Less Creative Than Westerners” (2001) yang dianggap kontroversial tapi ternyata menjadi “best seller”. (www.idearesort.com/trainers/T01.p) mengemukakan beberapa hal ttg bangsa-bangsa Asia yang telah membuka mata dan pikiran banyak orang:

  1. Bagi kebanyakan orang Asia, dalam budaya mereka, ukuran sukses dalam hidup adalah banyaknya materi yang dimiliki (rumah, mobil, uang dan harta lain). Passion (rasa cinta thdp sesuatu) kurang dihargai. Akibatnya, bidang kreatifitas kalah populer oleh profesi dokter, lawyer, dan sejenisnya yang dianggap bisa lebih cepat menjadikan seorang untuk memiliki kekayaan banyak.
  2. Bagi orang Asia, banyaknya kekayaan yang dimiliki lbh dihargai drpd CARA memperoleh kekayaan tersebut. Tidak heran bila lebih banyak orang menyukai ceritera, novel, sinetron atau film yang bertema orang miskin jadi kaya mendadak karena beruntung menemukan harta karun, atau dijadikan istri oleh pangeran dan sejenis itu. Tidak heran pula bila perilaku koruptif pun ditolerir/ diterima sebagai sesuatu yang wajar.
  3. Bagi oarang Asia, pendidikan identik dengan hafalan berbasis “kunci jawaban” bukan pada pengertian. Ujian Nasional, tes masuk PT dll,semua berbasis hafalan. Sampai tingkat sarjana, mahasiswa diharuskan hafal rumus-rumus Ilmu pasti dan ilmu hitung lainnya bukan diarahkan untuk memahami kapan dan bagaimana menggunakan rumus rumus tersebut.
  4. Karena berbasis hafalan, murid2 di sekolah di Asia dijejali sebanyak mungkin pelajaran. Mereka dididik menjadi “Jack of all trades, but master of none” (tahu sedikit sedikit ttg banyak hal tapi tidak menguasai apapun).
  5. Karena berbasis hafalan, banyak pelajar Asia bisa jadi juara dlm Olympiade Fisika, dan Matematika. Tapi hampir tidak pernah ada orang Asia yang menang Nobel atau hadiah internasional lainnya yang berbasis inovasi dan kreativitas.
  6. Orang Asia takut salah (KIASI) dan takut kalah (KIASU). Akibat- nya sifat eksploratif sbg upaya memenuhi rasa penasaran dan keberanian untuk mengambil resiko kurang dihargai.
  7. Bagi keanyakan bangsa Asia, bertanya artinya bodoh, makanya rasa penasaran tidak mendapat tempat dalam proses pendidikan di sekolah
  8. Karena takut salah dan takut dianggap bodoh, di sekolah atau dalam seminar atau workshop, peserta jarang mau bertanya tetapi setelah sesi berakhir peserta mengerumuni guru / narasumber untuk minta penjelasan tambahan.

Dalam bukunya Prof.Ng Aik Kwang menawarkan beberapa solusi sebagai berikut :

  1. Hargai proses. Hargailah orang krn pengabdiannya bukan karena kekayaannya. Percuma bangga naik haji atau membangun mesjid atau pesantren tapi duitnya dari hasil korupsi
  2. Hentikan pendidikan berbasis kunci jawaban. Biarkan murid memahami bidang yang paling disukainya
  3. Jangan jejali murid dengan banyak hafalan, apalagi matematika. Untuk apa diciptakan kalkulator kalau jawaban untuk X x Y harus dihapalkan? Biarkan murid memilih sedikit mata pelajaran tapi benar2 dikuasainya
  4. Biarkan anak memilih profesi berdasarkan PASSION (rasa cinta) nya pada bidang itu, bukan memaksanya mengambil jurusan atau profesi tertentu yang lebih cepat menghasilkan uang
  5. Dasar kreativitas adlh rasa penasaran berani ambil resiko. AYO BERTANYA!
  6. Guru adlh fasilitator, bukan dewa yang harus tahu segalanya. Mari akui dengan bangga kalau KITA TIDAK TAU!
  7. Passion manusia adalah anugerah Tuhan, sebagai orang tua kita bertanggungjawab untuk mengarahkan anak kita untuk menemukan passionnya dan mensupportnya.

Mudah-mudahanan dengan begitu, kita bisa memiliki anak-anak dan cucu yang kreatif, inovatif tapi juga memiliki karakter, integritas dan idealisme tinggi, tanpa korupsi. Dan ini akan membawa anak bangsa dan negeri ini, tidak hanya memenangi persaingan di tingkat ASEAN, namun lebih jauh dari itu, menjadi bangsa besar yang mampu unggul di tingkat global.

Advertisements

Author:

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s