Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship, IT

Menjaga Kebersamaan


togetherSeperti biasa, hampir setiap bulan kami mengadakan acara kumpul-kumpul, yang kami nama keren dengan CEO Talks. Jum’at 10/05/2013 kemarin, kembali kami melakukan acara ini. Sebuah kegiatan yaang sesungguhnya,didesain dan ditujukan untuk menjaga silaturrahim antar jajaran direksi dengan Totalindoers yang menjalankan tugasnya, tersebar di berbagai proyek, berbagai tempat dan berbagai clients. Selain tentu saja, menjadi ajang untuk ssaling, kenal, akrab dan merasa menjadi satu team. Kadang-kadang kami juga mengundang seorang ustadz, untuk memberikan pencerahan spiritual, tetapi jika tidak ada, seringkali tugas itu saya rangkap sendiri 🙂

 

Saya sadar, hampir seperti kebanyakan perusahaan IT lainnya yang pernah saya baca, maka turn over employee, juga lumayan tinggi. Bagi saya tidak masalah, seseorang keluar dari perusahaan kami, karena dia tahu apa dan bagaimana road map perusahaan ini, daripada mereka keluar masuk perusaah karena tidak tahu kemana tujuan perusahaan ke depan. Untuk itu sering VP HRD saya, juga melakukan exit interview, kemana mereka setelah keluar dari perusahaan kami. Bahkan saya minta untuk memastikan apakah perusahaan barunya itu cukup nyaman buat dia, dan seterusnya. Intinya saya sangat bersyukur, jika karyawan saya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik dari perusahaan kami, baik dari suasana kerja, jenjang karir maupun fasilitas dan salary-nya.

 

Kesan yang seringkali muncul dari karyawan yang resign dari perusahaan kami hampir sama, di antara beberapa kekurangan yang tentu saja menjadi alasan buat mereka untuk resign, tetapi satu hal ini yang membuat saya cukup tersenyum, yaitu suasana kekeluargaan di perusahaan ini. Ada juga yang resign selain ke perusahaan lain juga ada beberapa yang ingin mandiri. Bagi yang memilih jalur ini, malah saya kasih masukan bagaimana untuk memasuki dunia usaha. Biasanya pesen saya sederhana. Apa yang baik dari saya dan perusahaan ini silakan di contoh dan gabung dari referensi dan pengalaman orang lain. Dan apa yang tidak baik dari saya dan perusahaan saya, jangan dipakai dan tinggalkan saja.

 

The world is Flat

 

Kembali ke CEO Talks, aktifitasnya di awali dengan makan siang bersama, setelah sholat Jum’at. Kebetulan kantor kami dekat dengan Masjid, jadi enak. Panitia menyediakan makan siang bersama, secara prasmanan, di halaman kantor Totalindo Development Centers. Memang tidak di setiap acara semua bisa datang, karena terikat aktifitasnya di proyek masing-masing. Tetapi, paling tidak, limapuluhan orang lebih, tumpah ruah jadi satu di halaman, semua lebur. Tidak ada sekat yang menjadi pembatas, mana atasan dan mana bawahan. Kami memang menerapkan manajemen egalitarian. Sebagaimana Thomas L Friedman, ketika menulis dalam bukunya The World is Flat, bahwa dunia sekarang benar-benar “datar’. Meski Friedman, di bukunya itu menerangkan berbagai hal, yang mendukung thesisnya itu, tetapi menurut saya simpulanya sederhanan. Yaitu, saya meyakini bahwa dalam memasuki dunia yang datar dewasa ini, maka konsep manajemenpun, harus mengikuti pola seperti ini, jika tidak maka, kita akan ketinggalan atau paling tidak di tinggal oleh penghuninya.

 

Kami yakin, dengan pola manajemen seperti ini, kedepan kami bisa lebih baik dan maju bersama. Bahwa sekarang masih belum sempurna. Saya akui, iya. Dan itu semua memang butuh proses, yang sangat panjang. Di jajaran manajemen harus mulai berproses, bahwa mereka bukan menjadi penentu segalanya bagi arah perusahaan ini akan kemana, tetapi ada esensi yang lebih penting lagi, yaitu bahwa sesungguhnya mereka adalah pelayan. Baik kepada customer, karyawan, maupun kepada stake holder lainnya. Sedangkan karyawan juga haru mulai tumbuh kesadaranya, bahwa mereka bukan hanya sebagai faktor produksi ataupun obyek dari perkembangan organisasi. Tetapi mereka adalah human capital sekaligus menjadi subyek, bagi perkembangan perusahaan. Proses sedemikian itu, sangat mudah di ucapkan, tetapi cukup sulit untuk di implementasikan. Karena masing-masing pihak harus legowo, melepas egonya masing-masing. Jika semuanya dengan penuh kesadaran, kemudian mampu bersinergi, maka akan Insya Allah akan tercipta sebuah harmoni, yang akan membawa perusahaan kepada visi dan misinya.

 

Menggugah Kesadaran

 

Saya biasanya menyampaikan materi dalam pentuk mind mapping. Semua hal, baik yang sifatnya teknis maupun strategis, saya pampang dalam 1 halaman presentasi. Kemudian saya bumbui dengan relaitas yang terjadi sekarang. Saya hubungkan kondisi internal perusahan dan apa yang terjadi di luaran sana. Bahkan, tidak jarang saya sampaikan apa yang sedang menjadi trend dunia. Tentu saja itu semua terutama yang terkait dengan dunia IT. Meski tidak jarang juga dihubung-hubungkan dengan fenomena kontemporer yang terjadi. Dalam pandangan saya, secara tidak langsung saya mengikuti madzab “ think globally, act locally”. Saya tidak mau, Totalindoers hanya seperti katak dalam tempurung. Yang hanya melulu tahu apa yang dikerjakan, tanpa peduli apa yang terjadi di luar sana. Tetapi saya juga selalu menekankan, bahwa masing-masing mereka harus memiliki spesialiasi, yang terkait dengan kompetensinya.

 

Saya juga, tidak pelit untuk melakukan apresiasi bagi mereka yang berprestasi, atau memberikan kontribusi yang lebih buat perusahaan. Tetapi disaat yang sama, saya juga tidak segan untuk melakukan teguran, bagi mereka yang kurang berprestasi, demotivasi, disorientasi dan yang sejenis dengan itu. Saya selalu memberikan motivasi bagi mereka, bahwa diperusahaan ini, mereka tidak hanya untuk bekerja. Jika itu yang terjadi, maka mereka akan sekedar menggugurkan kewajiban, datang jam 9 pulang jam 5. Tetapi, saya selalu memotivasi, bahwa kita bersama disini untuk berprestasi bersama. Hal ini sejalan dengan di kontrak kerja, kami tidak menerapkan time base , tetapi target base . Sehingga, Totalindoers bebas bekerja dimana saja, asalkan pekerjaannya selesai.

 

Untuk membangun kesadaran ini, saya umpamakan bahwa dalam perusahaan ini, kita adalah bagaikan satu tubuh. Dimana kita hanya bermain peran, satu dengan lainnya dependen saling membutuhkan, bukan independen saling berlepas. Dus, tidak ada yang lebih hebat satu dengan lainnya. Melainkan kita hanya menjalankan lakon itu. Sehingga, jika ada satu bagian yang tidak sehat, juga akan dirasakan oleh lainnya. Maka, kita harus berusaha untuk saling menguatkan, sesuai perannya masing-masing. Dan paling tidak, kita harus saling mendo’akan, untuk kebaikan masing-masing peran, bahkan ke seluruh tubuh. Jika kesadaran seperti ini terbangun, maka hanya menunggu waktu saja keberhasilan kita raih.

 

Dan acarapun berakhir dengan semangat baru. Ini hanya salah satu cara, dari sekian cara yang kami lakukan. Intinya adalah bagaimana kebersamaan itu menjadi bagian dari kerja-kerja kami kedepan, untuk selalu berprestasi. Seperti biasa, kamipun mengakhiri dengan main futsal bersama, Ba’da Ashar sampai dengan Maghrib. Kebersamaan perlahan selalu terjalin dengan akrab. Selanjutnya, jika semua ikhtiar telah kita lakukan, maka selanjutnya bertawakal kepada Allah….

 

 

 

 

Advertisements

Author:

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s