Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

#3…..Sepuluh Faktor Utama Kurang Optimalnya Implementasi Strategi


Dalam beberapa survei dan penelitian, teryata ditemukan banyak perusahaan di Indonesia sangat lihai ketika membuat proposal, rencana kerja, business plan, termasuk mendesain strategi. Apalagi jika melibatkan Konsultan. Biasanya strategi yang di buat dalam kemasan tulisan yang indah-indah. Dan di bumbui dengan berbagai argumen, referensi, data-data statistik dan sederet dokumen pendukung lainnya. Intinya, mengandung pesan jika strategi yang tertuang itu dilaksanakan, maka akan mengangkat performance organisasi, yang pada gilirannya akan meningkatkan profit maupun benefit yang luar biasa bagi perusahaan. Kemudian efeknya bisa di tebak, bahwa pemegang saham, manajemen dan seluruh karyawan, kemudian tersihir oleh strategi yang disusun itu.

Akan tetapi menurut Tim Riset GML Consulting, dalam bukunya Even Elephans Can Dance, yang telah melakukan studi terhadap 175 esponden yang berasal dari ekseutif di berbagai organisasi di Indonesia pada tahun 2010 -2011, menemukan bahwa hanya 37,5 % responden yang merasakan setidaknya 70% program kerja dan rencana strategi berjalan dengan baik. Artinya ada 62,5% merasakan bahwa implementasi strategi belum berjalan secara optimal. Ketika ditanya apa alasan penyebab kurang terimplementasinya rencana strategi, berikut ada 10 alasan yang di maksud ;

  1. 40,8% : Tidak adanya suatu unit untuk memfasilitasi pembuatan strategi dan pemantauan implementasi
  2. 34,0% : Tidak terdapat proses yang baku dalam memastikan bahwa strategi, target dan program kerja unit kerja (devisi; departemen) diselaraskan dengan unit kerja (divisi; departemen) yang lain dan selaras dengan strategi di level perusahaan
  3. 34,0% : Tidak ada arahan yang jelas dan mengisnpirasi untuk strategi ke depan dari Executive Management
  4. 33,3% : Tidak terdapat sistem reward (dan non-reward) yang jelas kepada karyawan yang berkinerja tinggi dibanding dengan mereka yang berkinerja rendah
  5. 29,9% : Tidak ada pembelajaran serta langkah-langka koreksi terhadap strategi (dari review meeting) yang telah dilaksanakan
  6. 29,2% : Visi, misi dan strategi tidak di komunikasikan dengan terencana dan jelas sampai ke level lini depan organisasi.
  7. 28,6% : Kualitas sumber daya manusia tidak memadai
  8. 23,8% : Penyusunan budget organisasi tidak dikaitkan dengan perencanaan strategis organisasi
  9. 23,8% : Executive Management tidak mendorong inisiatif-inisiatif strategis yang mendorong perubahan organisasi dalam memenangkan persaingan
  10. 23,1% : Visi, misi, strategi, target, inisiatif strategi tidak terdefinisikan dengan jelas di level perusahaan maupun unit bisnis/divisi.

Dari kacamata saya, jika kesepuluh pertanyaan itu di tanyakan pada seluruh stake holder perusahaan saya, nampaknya jawabanya akan mengikuti struktur dan urutan prosentasenya, tidak mengalami perubahan. Dan bisa jadi ini merupakan wajah dari perusahaan di Indonesia. Sehingga sepuluh hal di atas, seharusnya bisa dijadikan semacam “kaca” untuk bercermin dalam rangka melakukan self evaluation. Selanjutnya dari situ akan kelihatan mana yang sudah sejalan, mana yang belum. Yang sudah dipertahankan dan kemudian di tingkatkan. Sedangkan yang belum sejalan dilakukan perbaikan, baik dari visi, misi, strategi, target dan implementasi strategi perusahaan di semua lini. Jika tidak, maka akan mengikuti jejak organisasi yang di riset itu. Lalu, bagaimana dengan perusahaan Anda? #3

Advertisements

Author:

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s