Posted in entrepreneur, technopreneur, Entrepreneurship

Dead Valley I (Memasuki Lembah Kematian)


Dead Valley atau ada yang menyebut the valley of dead, bukanlah sebuah tempat yang di rujuk oleh,  mbah Google, yaitu berupa Taman Nasional  (National Park) yang berada di Timur California, di Negara Amerika sana. Bukan pula cerita lembah kematian dalam petualangan Naruto, dimana digambarkan sebagai sebuah tempat yang gelap-gulita di dasar jurang, yang di penuhi dengan berserakannya tulang-beluang dan tengkorak manusia, yang sangat menyeramkan. Bahkan bukan sebuah roman maupun novel yang tidak jarang dibumbui dengan romansa petualangan pendekar silat, dengan seorang bintang mengenakan topi miring, yang menutupi sebagian wajahnya, dan pedang yang mengkilap tergantung di punggungya. Dan digambarkan pula siapapun yang melalui tempat itu, dijamin tidak akan bisa pulang secara hidup-hidup,  sebagaimana yang sering kita baca dalam cerita fiksi  tentang dunia persilatan.  Sekali lagi kita tidak bicara tentang itu.

Meski masih ada sangkut pautnya dengan suasana yang menyeramkan dan berdampak kepada “kematian”, kini  anda saya ajak untuk melihat dari sisi lain. Yaitu bagaimana sebuah “kematian”  dalam bisnis itu bisa terjadi dengan cara merencanakan bagaimana bisnis dan produk itu di bangun. Ini sebuah proses dan merupakan tahapan yang hampir pasti dilalui oleh para entrepreneur dalam menjalankan roda bisnisnya. Tahapan yang cukup menghantui  sekaligus jarang dipahami oleh pebisnis pemula, maupun yang sudah lama sekalipun. Sehingga banyak pula teknopreneur pemula yang kemudian terjungkal dan gagal-total melewati tahapan ini. Bukan karena mereka tidak bisa keluar dari lembah kematian ini. Akan tetapi lebih disebabkan oleh ketidaktahuannyalah yang kemudian, menyebabkan susah keluar dari lembah ini, dan semakin menyeret mereka, semakin jauh memasuki lembah yang seolah tidak berdasar itu. Dan pada titik ini, maka sebuah bisnis atau pengembangan produk akan ditinggalkan begitu saja, dengan berjuta penyesalan. Akibatnya kebangkrutan dan kegagalan menjadi jalan yang harus dilakoni.

Padahal jika tahu milestone  nya, seharusnya tidak harus terjerum s terlalu dalam di lembah kematian ini. Akan tetapi seharusnya jauh hari, sudah bisa mengkalkulasi, kapan bisnis meluncur masuk jurang dan kapan mengalami rebound, sebagai titik balik menuju right track dalam meraih kesuksesan. Secara natural, tahapan ketika memasuki lembah kematian ini, bisa diperlihatkan dalam bentuk kekurangan modal, kegagalan produk, di tinggalkannya partner bisnis, di tipu oleh partner maupun customer, hilangnya pelanggan dan pasar, dan sebagainya. Pendeknya tahapan ini, adalah tahapan “gelap” menuju sakaratul maut dalam bisnis. Seolah “nafas” bisnis kita sudah berada di tenggorokan, seakan kiamat sudah didepan pintu. Seringkali, dalam tahapan ini, semua upaya yang dilakukan buntu, seolah tak ada jalan keluar sama sekali. Sehingga frustasi, putus asa dan istilah sejenis dengan itu, hampir pasti menyertai semua orang yang melalui masa ini. Nah disinilah urgensinya, setiap pelaku bisnis, memahami dan mengetahui apa itu dead valley.

Memang dalam  setiap pengembangan bisnis, jenis usaha, produk dan jasa, mempunyai siklusnya sendiri. Tahapan dan jangka waktunya juga bervariasi. Akan tetapi paling tidak, siklus yang kemudian dinamakan dengan dead valley itu, dapat digambarkan sebagai berikut :

Selamat memasuki Lembah Kematian,… (bersambung….)

Advertisements

Author:

Life is beautiful

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s