Posted in Entrepreneurship, IT

Here Free Lunch


Yang terkesan dari kegiatan MTT#2 (MIFTA Teknopreneur Talks), adalah kemasan acara dan pilihan pembicaranya. Meski acaranya sederhana, tetapi sangat berbobot, menarik dan menggerakkan. Perhelatan rutin yang di laksanakan oleh MIFTA (Muslim Information Technology Association) ini, diadakan setiap bulan. Dengan cara mengundang dan juga mendatangi entrepreneur yang sudah cukup berhasil, dan memiliki track record yang bagus. Mereka “dipaksa” agar mau  berbagi tip dan trik bisnisnya, dari sejak awal merintis usaha sampai dengan  mencapai prestasi dan keberhasilan seperti sekarang ini. Narasumber, pada awalnya ditujukan kepada mereka yang memiliki bisnis yang berhubungan langsung dengan dunia IT (teknopreneur). Meski para pembicara MTT sebagaimana yang  diharapkan adalah  pelaku teknopreneur, akan tetapi Event Organizer-nya kali ini nampaknya cukup cerdas untuk kemudian merangkul pembicara yang memiliki potensi  untuk mendukung lahirnya teknopreneur baru. Sebab, sebagaimana visi MIFTA, untuk 2 tahun ke depan, adalah menciptakan 500 entrepreneur baru. Sebuah kerja mulia, yang besar, cukup menantang dan perlu didukung oleh berbagai pihak.

MTT#2, yang  kali ini diadakan di Gerai Dinar, sekaligus Pesantren Wirausaha, yang terletak di Perumahan Citra Grand, di bilangan Cibubur, dilaksanakan pada 25 Desember 2010, jam 9.00-14.00. Tempat tersebut adalah milik Pak Muhaimin Iqbal. Beliau sebagai shohibul bait, sekaligus sebagai narasumber. Saya sendiri mengenal beliau, lebih banyak melalui tulisan-tulisannya, seperti  di kolom Ilahiyah Finance di situs http://www.hidayatullah.com,  di http://www.geraidinar.com , selain itu saya juga menikmati buku-buku beliau yang cukup banyak, yang lebih banyak membahas Dinar sebagai Solusi bagi sistem keuangan dunia. Di acara MTT#2 ini, sebagai narasumber, pak Muhaimin, tidak khusus membahas Dinar  tersebut. Tetapi belia all out dan benar-benar membeberkan tip dan trik-nya secara blak-blakan, nggak ada yang ditutup-tutupi, apaladi di sensor. Dengan rendah hati, tetapi penuh motivasi, beliau menerangkan liku-liku perjalanan karir dan juga bisnisnya, tanpa terkesan menggurui kepada para peserta MTT#2, yang usianya jauh dibawah beliau. Dengan penjelasan yang cukup inspiring, tetapi menghujam di-ulu hati rata-rata peserta MTT#2. Sebagai pebisnis pemula, bahkan ada yang baru akan memulai terjun ke dunia bisnis, maka  inilah vitamin sekaligus antibiotik yang dibutuhkan mereka. Bahkan, untuk menunjukkan hasil kerja beliau, pada acara itu juga, dihadirkan kader beliau yang telah berhasil menjalankan bisnisnya, untuk berbagi cerita kepada kami.  Mas Danny namanya. Mas Danny sebenarnya membelot (desertir) dari praktisi IT, menjadi produsen jamur . Tetapi sharingnya, tentang pilihannya terjun di bisnis jamur -karena dipaksa pak Iqbal-, kemudian menjadi catatan yang berharga pula bagi peserta. Sayang saya datang agak terlambat, sehingga tidak dapat mengikuti dari awal. Tetapi saya tetap mendapatkan ilmu yang segar, karena dikemas dengan cara yang baru oleh para narasumber. Dan Alhamdulillah, ternyata panitia telah mengupload presentasi beliau di http://www.youtube.com/user/mymiftaid.

Kendati demikian, tentu saja banyak hal yang kemudian tidak bisa di lihat dan direkam di video itu. Karena di saat jeda, setelah sholat dhuhur secara berjama’ah, dan sehabis makan, adalah momen di mana beliau memberikan wejangan ilmunya pula. Bahkan diskusi tambah seru. Dan mungkin karena sudah tambah energy maka justru  knowledge sharing beliau yang   terjadi sehabis makan justru tambah menggigit. .Termasuk mebicarakan tentang masa depan Dinar-Dirham, dan kemungkinan hancurnya dollar. Diskusi terjadi di halaman belakang, di dekat kolam renang yang jernih. Disinilah dialog informal itu terjadi: lepas dan seolah tidak ada sekat dan jarak. Semua “rahasia” dan isi kepala beliau di curahkan mengalir deras bagaikan air bah kepada para peserta MTT#2. Pendeknya semua peserta, terutama saya, merasa mendapatkan energy baru untuk melangkah lebih jauh dan lebih berani lagi.

Akhirnya, satu hal yang secara subyektif menginspirasi saya adalah, jika biasanya kisah sukses dari entrepreneur pada knowledge sharing seperti ini selalu mengutip adagium “No Free Lunch” (tidak ada makan siang gratis) . Tetapi tidak bagi pak Iqbal, beliau bilang dan sekaligus mempraktekkan : “Here Free Lunch”. Buktinya, kami di persilahkan makan sekenyangnya (dan ini berlaku terhadap semua tamu dan semua peserta Pesantren Wirausaha), sajian dari produk binaan beliau di Pesantren Wirausaha, yang di beri nama Planet Beku. Sebuah produk makanan dan masakan sehari-hari yang dikemas dalam keadaan membeku, dan cara pengolahannya sangat mudah dan praktiis.

Setelah pulang dari Acara itu kemudian saya merenung. Ternyata berbagi (memberi) itulah kuncinya keberhasilan Pak Muhaimin Iqbal. Semakin banyak memberi, semakin banyak yang menerima, dan kemudian semakin banyak yang mendo’akan kita. Maka menjadi sangat wajar dan bukan utopis, jika beliau punya misi, membangun 1000 Masjid, dan menciptakan 1 juta lapangan kerja.

Selamat berjuang Pak Muhaimin (eh MIFTA juga ding), kami siap menjadi makmum dan mengisi shof di belakang Bapak, dan bekerjasama untuk mencapai missi mulia itu. Bismillah……

Advertisements

Author:

Life is beautiful

One thought on “Here Free Lunch

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s