Posted in Kronik

Naturalisasi, Politisasi dan Prestasi


Hari-hari ini, masyarakat Indonesia, dari semua kalangan dan lapisan, dari mulai rakyat jelata sampai dengan pemimpin Negara, tua dan muda, telah tersihir oleh hiruk-pikuk permainan Tim Nasional PSSI, dalam ajang piala Suzuki AFF, yang dulu di beri nama Piala Tiger. Turnamen AFF ini digelar 2 (dua) tahun sekali, merupakan kompetisi yang di memperebutkan sebuah piala, khusus bagi negara-negara yang berada di kawasan Asia Tenggara.  Sebaimana kita ketahui, Timnas, menunjukkan prestasi yang cukup membanggakan dan member harapan. Sebab sejak dari babak penyisihan, menunjukkan tingkat permainan yang di atas rata-rata peserta turnamen lainnya. Bayangkan dalam 3 pertandingan di penyisihan group, memasukkan 13 goal, dan sampai babak semifinal yang di kemas dalam home and away, total telah memasukkan 15 goal. Artinya jika di rata-rata, Timnas Indonesia memasukkan 3 goal di setiap pertandingan. Sebuah angka yang mengandung arti, bahwa permainan Timnas adalah memperagakan sepakbola menyerang.

Keberhasilan ini, kemudian di kaitkan pula dengan keberadaan Naturalisasi 2 pemain, yaitu Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim. Memang kehadiran kedua pemain ini, memberikan warna permainan Timnas. Irfan Bcahdim, pemuda keturunan Indonesia-Belanda, yang konon jebolan akademi sepakbola Ajax Amsterdam negeri Belanda ini. Selain memiliki ketrampilan (skill) individu yang baik juga postur tubuh yang mendukung, sebagai penyerang. Di tambah lagi, wajah tampannya khas Indo itulah, yang menyebabkan di gandrungi banyak remaja putri, yang kemudian rela berdesak-desakan enjadi pendukung Tim Nas di setiap pertandingan di stadium Gelora Bung Karno. Bahkan follower di account twitter-nya langsung melonjak 2 kali lipat, ketika dia tampil pertama dan mencetak goal saat melawan Malaysia di babak penyisihan. Pemain lainya, Cristian Gonzales, pemain keturunan Uruguay yang, setelah menjadi mu’alaf dan kemudian memeluk islam namanya berganti menjadi Mustofa Habibi itu, juga cukup memberikan pengaruh positif bagi Tim Nas. Pemain yang telah malang melintang di beberapa klub di Indonesia itu, dan selama 7 tahun merumput di Indonesia telah mengkoleksi lebih dari 150 goal, di seluruh turnamen yang diikuti. Dia di juluki El-Loco, artinya si gila, sebab meminjam istilah komentator sepak bola di salah satu stasiun swasta itu, dia sebagai predator kotak pinalti. Sebab jika el-loco menerima bola di kotak pinalti, hampir di pastikan membuahkan goal. Gonzales, menjadi semakin alim ketika menjadi mu’alaf. Meski keinginan naik hajinya tertunda lantaran, hadiah top scorer tahun 2007 berjumlah 50 juta yang sedianya untuk ongkos naik haji, dialihkan demi membiayai persalinan anak ke-4 nya. Namun ekspresi keimanannya, selalu di tunjukkan ketika selesai mencetak goal, dengan mengacungkan jari telunjuknya ke atas, konon itu dia maksudkan bahwa keberhasilan itu atas takdir yang di atas.

Begitu melihat prestasi Timnas PSSI yang moncer itu, saat  kompetisi sudah memasuki babak semifinal, sontak mengusik naluri uk untkampanye bagi Politisi dari berbagai lapisan. Tidak kurang Presiden beserta keluarganya dan jajajran menteri, juga beberapa pejabat Negara, rame-rame membeli seragam Timnas dan berbondong-bondong mendatangi Senayan untuk menonton langsung dari dekat. Bagi politisi yang tidak datang ke senayan mereka mengekspresikannya, melalui berbagai cara termasuk membanjirnya puja-dan puji mereka  kepada Timnas di account twitter-nya. Pendeknya mereka tidak mau di cap tidak peduli terhadap Timnas. Bahkan ekpresi kegemberiaan presiden dan ibu Negara, berulang kali si sorot kamera, ketika penyerang Timnas berhasil menyarangkan bola di gawang lawan.  Dari sekian itu, kemudian yang berkembang menjadi polemik, bahwa PSSI telah di politisasi, adalah sehari setelah Timnas memastikan diri masuk ke babak final untuk melawan Malaysia. Pemain Timnas, pelatih, official, dan pengurus PSSI di undang makan pagi di rumah Aburizal Bakrie. Meski Nurdin Halid ketua PSSI yang kontroversial itu (bahkan di setiap pertandingan , penonton selain meneriakkan yel mendukung timnas, juga meneriakkan yel “Nurdin Turun!!), memberi keterangan kepada pers bahwa keluarga Bakrie-lah yang memberikan donatur bagi operasional PSSI selama ini. Juga menyediakan bonus milyaran rupiah, serta hibah tanah 25 Ha untuk Pusdiklat pengembangan Sepak Bola, justru membuat public mencuibir bahwa Timnas telah di politisasi. Meski jika flash back kebelakang, misalnya prestasi Timnas tahun 90-an ketika Nirwan Bakrie (sekarang wakil ketua PSSI), membiayai proyek primavera berlatih ke Italis, tetapi tetap saja public tidak bisa menerima ini. Bagi public keberhasilan ini bukan karena mereka. Sebab kehadiran keluarga Bakrie saat  ini akan hangat di kaitkan dengan : Lumpur Lapindo, kasus suap ke Gayus, sampai kepada akuisisi Esia (Bakrie Telecom) ke Flexi. Wartawan sangat cerdas untuk menggoreng berita dan issue-isue itu menjadi tambah hangat.

Meski saat ini prestasi Timas, dianggap memberikan harapan, itu karena memang sudah lama rakyat tidak pernah menyaksikan dan disuguhi prestasi oleh PSSI. Yang muncul bahkan stigmatisasi buruk terkait dengan permainan unfair, penonton yang brutal, lapangan yang jelek, bonek dll. Jika kita melihat data dari FIFA, saat ini per November 2010, peringkat Timnas ada pada urutan ke 127 dari 203 anggota FIFA. Sementara peringkat PSSI terbaik terjadi pada September 1998, yaitu diurutan 76, dan yang terendah di urutan 153 pada Desember 2006. Memenangkan piala AFF dengan menundukkan Malaysia, skor berapapun akan meningkatkan peringkat PSSI. Dan yang lebih penting lagi adalah semakin meningkatkan permainan agar peringkat terus naik, yang pada gilirannya bisa mengikuti Piala Dunia (lagi), sebagaimana pada tahun 1938, ketika masih bernama Hindia Belanda, meski kandas di babak awal ketika itu.

Kuncinya, hentikan politisasi, perbanyak donasi, lakukan pembinaan sejak dini, gulirkan kompetisi yang sehat, insya Allah PSSI akan menjadi kebanggaan bangsa Indonesia. Semoga, langkah awal ini dimulai dengan menjuarai piala Suzuki AFF, dengan mengalahkan Malaysia, baik ketika tandang tanggal 26 Desember mauapaun ketika main kandang 29 Desember 2010. Saatnya kini berprestasi…IN-DO-NE-SIA…..

Advertisements

Author:

Life is beautiful

One thought on “Naturalisasi, Politisasi dan Prestasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s